18 Juli 2016

belum-ada-kabar-juga

tapi nafsu makanku sedikit bertambah. entah senang entah sedih :'''D

15 Juli 2016

hai,
sudah tengah juli
dari empat belum juga
ada yang menampakkan diri

dari empat,
hanya satu yang
hampir ada
tanggal pasti

dari empat,
hari senin
mesti saya tagih
dua

sisanya,
hanya Tuhan
yang tahu
kapan datang

SOOOOOO OVERLY EXCIITEEDDDD KYYAAA!! :'''''')

mohon maaf kaka dian dan kaka dias, aku berenti DUC. wgg. DOAKAN WAWANCARA AKU EAAA AKU EXCITED SEPARAH-PARAHNYAAA!!!

08 Juli 2016

DUC#6: MURI dan Pembawa Perubahan Bangsa

Hari ini gw dan saudara-saudara gw main timezone seharian di Mall of Indonesia, alias MOI, di bilangan Kelapa Gading. Kami yang gila timezone sedari kecil segitu betahnya main, terus makan, minum, terus main lagi. Luar biasa sodara-sodara, luar biasa. Sebelum permainan kali kedua, kami menyempatkan diri untuk menengok pameran tetap MURI alias Museum Rekor Indonesia, yang ternyata letaknya ada di dalam MOI itu sendiri!

Di sana, ada berbagai foto, bahkan wahana interaktif (layar touch screen, kacamata plus headset untuk virtual reality experience, dan beberapa hal kecil lain). Ada juga video, yang ada di youtube itu loh, yang presiden dan mantan-mantan presiden Indonesia, mantan wakil, beberapa negarawan, dan orang-orang penting bagi bangsa ini gantian nyanyi lagu "Indonesia Pusaka." Sweet deh. Sepertinya proyek itu jangka panjang, karena mereka sempat merekam antara lain alm. Gusdur, alm. Gito Rollies, dan alm. Idris Sardi, sementara Pak Jokowi juga sudah ada di video itu. Artinya mereka direkam nyanyi dalam epok yang berbeda, ya toh? Oh ya, yang menarik, ada Frans Magnus Suseno, serta pasangan Susi Susanti dan Alan Budikusuma juga. Favorit :')

Jujur, sempat terpikir di benak gw. Mungkin ga ya, suatu hari gw di sana? Jadi orang penting yang berdampak besar untuk kemaslahatan umat. Hmm.. Satu-satunya orang yang cross my mind saat memikirkan ini adalah si Anggi, teman SMP gw yang kemarin kuliah di Fakultas Ekonomi UI, dan bakal berangkat ke Yale Juli ini. Yale, nyets, Yale! Ms. Ivy League she is! Oh yaaaa dan Sari! Senior favorit idola sepanjang masa gw dari SMA! Sebelumnya Antropologi UI dan Master di Amsterdam. Dia baru berangkat juga, ke US juga, nyeets! Buat S3!! Lalu terlintas, obrolan gw dan Dian, serta dengan beberapa orang belakangan ini. Kalau seseorang mau punya pengaruh, sebenarnya paling cocok yang kuliah di ilmu-ilmu sosial, terutama sospol dan ekonomi. Dampak pekerjaan lo, BAM! Bisa besar sekali, karena yang lo pikirkan itu benar-benar manusia. Sementara gw. Sekarang di Geodesi. Gw mendidik surveyor. Gw mendidik pekerja. Kalau pun ada yang akan jadi pemimpin di bidang ini, mungkin ya, sebatas orang-orang sesama geodet-surveyor aja, ga lebih. Padahal, jaman SMA, kesannya kelas IPA itu wah banget. Terutama sih karena ga bisa jadi dokter kalau ga IPA. Tapi begitu masuk dunia nyata, anak-anak IPS yang menentukan nasib bangsa, coi! Hmm.. Jangan-jangan.. Paradigma "IPA itu hebat" juga hasil konspirasi untuk memperkecil kemungkinan negara yang sejahtera akibat para ambisius terlanjur mengejar bidang IPA yang jarang-jarang jadi stakeholder bangsa?

07 Juli 2016

DUC#5: Kisah di Balik Kelambu

Euuughhh naon pisan judul DUC gw hari ini :''') Namun sebenarnya, yang ingingw ceritakan adalah, bintang-bintang yang gw pasang di kelambu kamar tidur gw di Cinere. Apaaa? Gaby tidur pakek kelambuu? Yoyoooiy romantis parah gak sik ;p Kaga kaga, ceritanya mah kamar gw temanya bohemian gitu, wuhu.

Bintang-bintang ini gw ga beli. Dapet. Atau bisa dibilang, bonus. Sebelum natal 2014, yang adalah sebelum natal di mana gw pulang ke rumah alias Indonesia (yang gw dateng nikahan Pretty sama Icas itu loh), gw ceritanya, seperti rutinitas biasa gw di awal bulan, baru beres belanja. Nah, di pintunya, gw ngeliat orang-orang tua (kebanyakan sih nenek-nenek) pada jualan lilin. Pas masuk sih gw ga gitu perhatiin, tapi pas mau keluar, gw tertarik sama bacaan di spanduk mereka. Anxiously gw beranikan diri nanya sama mereka "Halo, ini apa ya?" Jadi ternyata mereka jual lilin untuk charity. Judulnya "Natal sejuta lilin" kalo ga salah, dari sebuah asosiasi Khatolik se-Prancis Raya. "Oh, kalau yang ini berapa?" Gw ambil tiga lilin kecil, simpel, karena yang tinggal di rumah gw saat itu ada tiga orang. "Oh, kami ga pasang harga, silakan bayar sebisamu." Digituin, gw berpikir, angka berapa yang akan gw berikan. Lalu saat gw sebut angkanya.. "Kamu serius?" "Hanya untuk tiga lilin ini?" "Ini, lebih baik pilih yang ini, ada empat dan kualitasnya lebih bagus." "Kamu yakin kamu mau kasih segitu?"

"Tentu, ini kan untuk kegiatan amal," jawab gw dengan polos setelah dihajar ini itu sama para eyang-eyang yang kontan kebingungan. Gw pun heran dalam hati, padahal jumlah yang gw sebut itu, kalau dihitung-hitung tidak jauh dari jumlah yang biasa nyokap gw titipkan lewat gw sama Nino sebagai "uang persembahan" ke gereja setiap hari Minggu. Sambil gw terheran gw berikan uang gw ke salah satu nenek, yang nawarin gw paketan lilin lain. Tak lama sebelum gw melangkah keluar, salah satu nenek memberanikan diri untuk bertanya, "Permisi, apakah kamu seorang yang percaya?" Begitu cara sebagian dari kami memanggil satu sama lain. "Ya, saya orang percaya." "OK, bawa ini, ada beberapa ayat yang mungkin bisa kamu baca setiap harinya," sambil menyerahkan kaleng bulat kecil berisi kartu-kartu potongan ayat yang juga berbentuk bulat. "Bawa ini juga," kata nenek yang lain. "Ini apa?" tanya gw. "Untuk kamu gantung di Pohon Natal."

Template developed by Confluent Forms LLC