25 Maret 2010

sebuah refleksi dari gelak tawa dan haru biru

Ini adalah satu-satunya film india yang boleh gw bilang SANGAT AMAT SUPER DUPER WAJIB DITONTON OLEH MASYARAKAT SELURUH DUNIA!! Oke lebay, tapi serius, menurut gw, film gratisan dari pimen berdurasi 3 jam yang nggak pake efek macem-macem ini jauh lebih valuable dibandingkan dengan film 2012 seharga Rp 27.000,- di blitz megaplex paris van java yang ditunggu-tunggu karena efek-efeknya yang luar biasa dan berdurasi selama 2,5 jam DAN membuat gw tertidur.

Singkat cerita film ini bercerita tentang pengharapan, cita-cita, passion, hal-hal yang sudah dianggap umum sebagai tema dalam dunia entertainment tapi kerap terlupakan dalam kehidupan nyata. Diawali dengan adegan bodoh yang mengundang senyuman mencibir “hah, dasar film india,” yang kemudian mundur ke suatu masa di mana terdapat tiga orang mahasiswa dengan latar belakang berbeda-beda yang menjalani masa-masa kuliah di perguruan tinggi terbaik di bangsanya. Banyak adegan-adegan yang mengagetkan, membuat penasaran, mengundang gelak tawa, dan memancing tangis. Film dengan alur maju-mundur ini terhitung mudah menguasai emosi penontonnya sehingga waktu 3 jam tidak akan terasa begitu lama.

Satu hal terkuat yang gw dapet dari film ini adalah, passion. Ya, lagi-lagi tentang passion. Dalam film ini tersirat suatu pesan bahwa kehidupan yang bahagia ialah kehidupan yang dijalankan sesuai dengan passion . Seseorang tidak akan bahagia mengerjakan sesuatu yang bukan passion-nya, beeeuhhh..

Selain itu pas banget timing-nya, film ini keluar saat gw sedang menjalani hari-hari sebagai mahasiswa! Jadi emosinya dapet banget dan, wuah, bisa dibilang film ini WAJIB TONTON buat yang namanya mahasiswa! Semua aspek mahasiswa ada di sini deh, dari ngejar-ngejar dosen buat tugas akhir, dosen killer dengan pemikiran nyeleneh, persahabatan, perpacaran, pemberian kebanggaan kepada orang tua, dan tentunya masa depan. Salut buat film india yang satu ini. Hehehe.

17 Maret 2010

pikiran macem-macem dalam kampus yang isinya macem-macem dengan mata kuliah yang macem-macem

judul yang sangat menggambarkan bukan?
yah, mari kita mulai diskusi tertutup ini. mengapa tertutup? karena hanya saya yang bicara! muahahaha!! oke, cukup.
jadi, ternyata, mengambil kelas filsafat dan jurnalistik sebelum waktunya tiba (baca: setelah lulus dari semua mata kuliah wajib dan 19 SKS pilihan geodesi), itu ada gunanya juga. pikiran jadi lebih terbuka, wawasan lebih luas, dan pikiran makin macem-macem. tenang. yang pengen gw bahas di sini cuma satu macem kok. dan satu macem itu adalah : batas kelulusan maksimum!
jadi begini. ITB menerapkan batas maksimal kelulusan bagi mahasiswa angkatan 2008 hanya sebatas 6 tahun, yang mencakup 2 tahun Tahap Pembelajaran Bersama (TPB) dan 4 tahun kuliah program studi (prodi), jadi otomatis mahasiswa yang tidak mengulang TPB hanya memiliki batas waktu maksimal 5 tahun. gosip yang beredar adalah (dikatakan gosip karena belum terbaca literatur tentang hal ini, hanya dari mulut ke mulut), keputusan ini diambil atas dasar psikotes mahasiswa angkatan 2008 yang memungkinkan untuk lulus cepat, sehingga tidak perlu diberi batas waktu yang terlalu lama, namun apakah batas waktu ini benar-benar efektif?
sekedar pemikiran saja (sekali lagi, ini hanya pemikiran, dasar literaturnya masih sedikit dengan sumber-sumber yang sedikit pula), mungkinkah mahasiswa sekarang sedang dikekang dengan cara yang lebih "halus" notabene batas kelulusan? seperti yang saya ketahui dan saya baca ketika inisiasi mahasiswa baru, mahasiswa ITB membuat sejarah dengan pemikiran-pemikirannya yang kritis tentang kondisi bangsa, seperti pada tahun 1978, di mana mahasiswa ITB mulai menolak dicalonkannya kembali (alm.) soeharto sebagai presiden republik indonesia, di mana hal ini baru terealisasi pada tahun 1998 dengan gerakan seluruh mahasiswa di indonesia. sekarang? ke mana mahasiswa ITB? mengapa seakan menghilang?
ciri khas mahasiswa ITB yang terbayang sebelum memasukinya adalah : belajar, belajar, belajar tanpa henti. begitu masuk, gambaran tersebut berubah seiring dengan berjalannya inisiasi mahasiswa pada saat itu. ITB menjadi semakin hebat dalam bayangan. karena gebrakan-gebrakan politik yang pernah dibuatnya. namun seiring berjalannya waktu, ciri khas yang pertama malah semakin nyata. di mana pun Anda berpijak di ITB, di situlah Anda akan menemui mahasiswa yang sedang belajar. belajar apa saja, namun terutama belajar untuk ujian dan tugas-tugas yang menumpuk.
bagaimana dengan kondisi negara? tidakkah seharusnya mereka, sebagai mahasiswa yang masih memiliki idealisme tinggi, aktif mengkaji dan mengkritisi masalah yang terjadi pada negara? jawabannya mudah : tidak ada waktu. masih banyak ujian, tugas, dan praktikum yang harus dikerjakan untuk mencapai kelulusan di setiap mata kuliah. belum lagi batas waktu yang menghantui.
dari pemikiran-pemikiran berantakan ini, saya mengambil satu pertanyaan sebagai kesimpulan : apakah batas kelulusan merupakan satu alat politik untuk mengontrol pemikiran kritis dan idealis ala mahasiswa?

penulis tidak memiliki latar belakang politik dan baru saja ingin belajar politik, namun masih sulit mencuri waktu di sela-sela ujian, tugas, praktikum, kegiatan unit, himpunan, dan jeda pribadi.
Template developed by Confluent Forms LLC