31 Agustus 2010

2 buku lagi

ternyata energi saya masih banyak. waktu juga masih menunjukkan pukul empat. yah, masih cukup banyak waktu menuju pukul setengah tujuh. sebentar lagi pun saya akan menyelesaikan pekerjaan lain. saya hanya butuh senang-senang sebentar di blog ini.

kali ini saya akan kembali membahas dua buah buku yang tidak lama baru saya habiskan. yah, kedua buku ini terbilang cepat habis, karena saya membacanya saat kerjaan saya belum sebanyak sekarang. masa-masa kosong kerjaan, hahaha. sok sibuk dasar.

mari kita mulai dengan bacaan yang agak serius..


buku ini saya pinjam dari aryo prayudhana, salah satu supplier peminjaman buku saya di kampus, selain rizki akbar dan albert adhityas satria wibawa. sebentar lagi saya juga akan menodong nuli rahmasari, hahaha.

atas saran aryo, saya meminjam buku ini. tertarik dengan deskripsinya, 9 cerpen yang saling berkesinambungan. wow. penasaran dan mulai membaca. halaman-halaman pertama berhasil merebut hati saya dan membuat saya betah membaca sampai cerpen pertama habis. wow. luar biasa. jantung saya seakan berdetak mengikuti irama yang dibawa penulis dalam cerpen tersebut. hari-hari berikutnya saya membaca cerpen-cerpen selanjutnya satu-persatu secara berurutan. uniknya, setiap cerpen diawali sebuah ilustrasi yang semakin membawa pembaca masuk ke dunia yang dibentuk oleh leila s. chudori. sebuah pengalaman membaca yang baru kali ini saya alami. ilustrasi setiap cerpen bersanding dengan pas, tidak lebih, tidak kurang.

setiap cerpen yang ditulis oleh leila nyaris tanpa akhir. yang ia ceritakan bukanlah hal-hal indah, melainkan hal-hal yang justru menggambarkan penderitaan tanpa ujung. menarik dan miris secara bersamaan.

saya tidak akan menceritakan buku ini lebih banyak lagi. saya berani memberikan angka 5 dari 5 untuk buku ini. pas! entah mengapa saya selalu menyukai sebuah karya sastra yang bersentuhan dengan kehidupan jurnalisme. seakan segala sesuatu dibuat se-nyata-mungkin, padahal tak lain ia hanyalah sebuah karya sastra. imajinasi. salut 100 kali lipat untuk leila :)

beralih ke bacaan yang lebih santai..


berbeda dengan 9 untuk nadira, novel pillow talk ini terbilang ringan, walau tebalnya mencapai 500 halaman. ceritanya tidak asing. tentang sahabat yang sama-sama berharap lebih namun sama-sama menjaga perasaan. ya, klise.

halaman-halaman awal buku ini membawa suatu aura 'dewasa' yang agak membuat pembacanya kaget dan menimbang-nimbang: haruskah saya selesaikan buku ini? namun dengan saran bijak dari abdurrahman hakim, saya berani meneruskan novel ini. ternyata bagian 'dewasa' tersebut hanya ada di awal-awal cerita. mungkin sekedar untuk menarik pembaca.

menyelesaikan buku ini terbilang cepat. saya menyelesaikannya selama 3 hari, sementara abdurrahman hakim menerkamnya dalam waktu 2 hari, di mana ia baru membacanya setelah ia berbuka puasa. tak heran. nyatanya isi novelnya tak terlalu berat. benar-benar ringan dan sebenarnya biasa saja.

saya hanya bisa memberi 2 poin untuk novel ini. terlalu biasa. ceritanya tidak ada yang aneh-aneh atau pun nyeleneh barang sedikit. yah, saya tidak bermaksud menjelek-jelekkan, tapi dari segi mana pun saya biasa saja sama novel ini. dibilang suka tidak, dibilang tidak suka juga tidak. mungkin aryo prayudhana sedang bosan membaca novel-novel 'gelap' saat ia memutuskan untuk membeli buku ini. untuk christian simamora, jangan berhenti menulis. tulisan Anda menghibur kok :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Template developed by Confluent Forms LLC