13 Agustus 2010

tinta pena yang kembali tergores

tsaaahhh.. keren bet bet bet bet dah judulnyaaah!! memang, saya ingin bercerita tentang masa-masa awal kembali ke kampus, yang ditandai dengan: kaku menulis. bwahahahahahaaa. tulisan ini akan bercerita sedikit tentang keberadaan mahasiswa baru di ITB, kampus kami tercinta.

mari kita tilik dari sisi perut. untungnya, kami masuk hanya beberapa hari sebelum puasa. dan dalam beberapa hari itu SEMUA KANTIN PENUH. saat saya bilang semua, itu benar-benar SEMUA!

betapa malangnya nasib kami, mahasiswa lama. tambah lagi teman saya, dia tambah susah cari parkir mobil. jangan salah. dia pakai mobil bukan untuk gaya-gayaan. jarak dari kampus ke rumahnya terbilang cukup jauh, jadi orang tuanya merasa lebih aman jika ia bawa mobil.

kampus juga terasa ramai sekali. banyak yang belajar bareng di perpus, jalan-jalan lewat "jalan arteri" ITB yaitu indonesia tenggelam alias intel, belum lagi beberapa mahasiswa tingkat 2 yang mulai dikumpulin buat ospek jurusan, wuaaahh ruuaammeeee!!!!

namun jika direnungkan, seringkali gw merasa serba salah dengan keberadaan kampus ITB sekarang ini. satu hal yang paling menggunjing hati adalah kenaikan SPP yang nyari 100%. kami, para mahasiswa lama sih, masih dengan sistem lama, membayar sekian juta per semester dengan maksimal jumlah sks 24. mahasiswa di bawah kami, mungkin mulai dari 2009, sudah harus membayar SPP per-sks, yang jika ditotal, yah, itu tadi, nyaris 100% kenaikannya.

mungkin untuk para mahasiswa yang masuk lewat jalur USM, hal ini tidak terlalu menjadi masalah. mungkin. namun bagaimana dengan yang ekonominya kurang? orang-orang yang memang berpotensi untuk menuntut ilmu di negeri ini? jelas mereka harus bolak-balik, bahkan pontang-panting cari beasiswa untuk menopang kehidupannya, kuliahnya, bahkan mungkin tugas akhirnya. untungnya masalah tempat masih ada asrama-asrama yang menampung mahasiswa dengan biaya yang cukup terjangkau. belum lagi mahasiswa yang sudah punya himpunan atau unit tertentu. kalau nggak dapet kos-kosan, jadikanlah ruangan sekretariat sebagai kos-kosanmu, hehehe.

mendengar hal ini, saya kembali merenung. betapa beruntungnya saya dan teman-teman saya sebenarnya. memang, tidak sedikit orang yang meremehkan lulusan-lulusan USM. ada yang berkata, persaingannya tak seketat SPMB. ada pula yang bilang, sekarang ITB hanya milik orang-orang berduit. untuk statement kedua, bisa jadi ini benar. saya belum pernah ikut kajian-kajian tentang dana pemerintah yang tadinya untuk PTN dialihkan ke mana, baca juga enggak. namun sayang sekali, jika nantinya kualitas PTN menurun, akibat input yang kurang dari ekspektasi. mengapa saya merasa beruntung? karena saya dan teman-teman 2008 masih berada di perbatasan. saya masih sekelas dengan teman-teman yang tingkat ekonominya berbeda-beda, yang tentunya memiliki serta memberi pandangan yang berbeda-beda pula, dan saya sangat bersyukur saya masih merasakan "keagungan" ITB.

mengetik tulisan ini pikiran saya melayang ke mana-mana. jauuuh sekali. begitu banyak hal terpendam keluar dengan mudah ketika berhadapan dengan keyboard. saya memikirkan masa depan bangsa ini. cita-cita, impian, dan harapan saya. ya, mereka adalah 3 hal yang berbeda untuk saya, maka saya wajib menyebutkan ketiganya, walau tak akan terlalu saya bahas perbedaannya di sini.

saya bercita-cita untuk memajukan bangsa ini, paling tidak, dalam satu bidang. perlahan, namun pasti. namun ternyata begitu sulit menemukan stepping stone untuk hal ini. begitu banyak hal yang perlu diperbaiki, karena selama bangsa ini masih belum lepas dari kemiskinan (dan penjajahan?), ilmu pengetahuan akan (nyaris) tidak ada gunanya. kita boleh bangga memiliki anak bangsa yang memenangkan olimpiade ini itu. namun ketika mereka dewasa, mau ke mana mereka? apakah mereka akan "hanya" menjadi corporate slaves? direktur atau CEO dari perusahaan (asing) ternama? terlalu menyedihkan.

sebenarnya, tadinya tidak ada hati dari saya untuk membagi tulisan ini kepada teman-teman. namun ternyata, malam ini pikiran saya melayang sudah terlampau jauh. sehingga, lewat tulisan ini saya ingin mengajak teman-teman membuka hati kita. pantaskah, ketika kita sudah punya mobil mewah, bahkan pesawat jet pribadi, masih ada saudara sebangsa setanah air kita yang hidup dari "uang receh" kita? adakah hati teman-teman tergerak untuk membuat mereka memiliki "kehidupan" yang sesungguhnya?

beberapa dari antara kita kini mungkin masih berpikir untuk memperkaya diri terlebih dahulu dengan bekerja di perusahaan (asing) yang ternama dengan iming-iming gaji yang besar. namun saya percaya, teman-teman bisa lebih dari itu. kita ini hanyalah sekitar 1% dari penduduk Indonesia, penduduk yang beruntung dapat mengecam pendidikan tinggi. 1%!! bayangkan jika kita, yang 1%, saling bekerja sama mendirikan perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam suatu bidang ilmu atau lintas bidang ilmu. berapa banyak tenaga kerja yang bisa kita tarik untuk bekerja di perusahaan tersebut? berapa banyak penduduk yang dapat bekerja nantinya? bayangkan pula perusahaan (asing) yang nantinya semakin lama akan semakin sepi peminat. bisa jadi mereka akan tutup karena kalah saingan dengan perusahaan-perusahaan yang akan kita buat nantinya!

sebaliknya, jika kita yang 1% ini "hanya" bekerja menjadi "buruh" di perusahaan (asing) yang denger namanya aja kita udah "WOAAAAHH!!!! GOKIIIL!!!" mau dikemanakan sodara-sodara kita yang pengangguran? kalau takut bingung uangnya bakal ke mana kalau terlalu banyak lapangan kerja, menurut saya (sekarang ini) masih bukan masalah. bukankah dengan meningkatkan jumlah tenaga kerja kita juga dapat meningkatkan daya beli? yah, mungkin nanti kita harus memiliki ekonom yang jago dan ngerti beginian. karena saya nggak ngerti.

mungkin di antara kita juga masih banyak yang ragu. saya pun begitu. tulisan ini pun, seperti saya bilang, masih di angan. stepping stone-nya sendiri belum ada, itulah PR besar buat kita semua. bagi yang masih ingin bekerja di perusahaan (asing) terlebih dahulu, untuk belajar sistem kerja dll, silakan. tapi saya ingatkan untuk tidak terlena. karena setiap manusia pasti memiliki comfort zone-nya masing-masing.

sekian tulisan saya, yang telah berbelok arah. saya sangat mengharapkan respon dari teman-teman, walau setelah masuk kuliah ini, teman-teman jadi jarang internetan, hehehe. terimakasih telah bersedia membaca tulisan panjang ini, semoga berguna dan membuka pikiran kita. satu lagi: correct me if i'm wrong yah :)

4 komentar:

  1. moga2 idealismenya tahan sampai lulus dari ITB.
    karna setau saya belum pernah ada yang nolak tawaran dari Total atau Chevron atau yang lain2 bahkan untuk orang yang semasa mahasiswanya sangat anti perusahaan asing.

    Mungkin kalo udah ngga netek dari ortu lagi baru ngerasain gimana rasanya harus menuhin kebutuhan (termasuk hura2) sendiri. Kalo udah ngerasain, pasti jadi lebih pragmatis..

    BalasHapus
  2. wah ini dia penggemar setia saya, makasih yaa udah baca tulisan saya sampe akhiirrr.. hehehe..

    yah, paling tidak yang saya bela sekarang adalah negara saya sendiri.. oh iya, besok 17 agustus lhoo.. ada apa yaa? hahahaha..

    BalasHapus
  3. @hark: lo sendiri, gimana bos? nerima ato nolak tawaran perusahaan2 itu? eh, dapet tawaran ga?
    profil lo ga bisa diliat ni bos, ga seru ah.

    BalasHapus
  4. live under pseudonym om,
    percuma aja ada propilnya
    isinya banyak yg ofensif soale

    BalasHapus

Template developed by Confluent Forms LLC