24 Oktober 2010

menulis, atau ngobrol?


saya jatuh cinta dengan dunia tulis menulis. biarpun tidak banyak yang baca tulisan saya, saya selalu senang baca tulisan saya sendiri. seperti berkaca, namun dengan diri saya di masa lalu. itulah mengapa saya terus ngeblog, walau yang baca blog saya juga hanya beberapa orang.

ada saat di mana saya ingin tulisan saya dibaca orang. makanya saya sempat nge-link blog ini ke facebook. namun sekarang link tersebut sudah tidak bekerja. nyatanya saya tidak terlalu kehilangan.

ada teman saya yang bilang, ngobrol dengan seorang teman lebih baik dibandingkan dengan menulis diary, karena diary bisa dibaca siapapun, sementara ngobrol, hanya ada interaksi antara 2 orang. yah, tidak persis, namun kurang lebih begitu.

saya belum menguasai ilmu ngobrol yang satu ini. lintas usia, lintas generasi.

saya juga suka ngobrol. apalagi jika obrolan itu hanya terjadi antara 2 orang, hanya saya dan seorang lawan bicara. lebih senang lagi kalau obrolan bersifat langsung. nyaris tidak ada yang saya tutupi ketika ngobrol berdua, dengan siapa pun itu. cerita bisa lancar mengalir begitu saja. namun saya jauh lebih tertarik mendengarkan lawan bicara saya yang bercerita. yah, saya hanya memberikan pertanyaan-pertanyaan pancingan yang membuat lawan bicara saya banyak berbicara, dengan antusias, biasanya, saya harap.

ada juga saat-saat di mana saya menikmati hening. hanya dengan duduk bersama-sama, mungkin berdampingan, mungkin berhadapan. diam, sudah cukup. hanya dengan merasakan keberadaan seseorang di samping saya, terkadang saya bisa merasa aman, dan nyaman, terutama ketika memang saya sedang tidak ingin banyak bicara.

ada kenikmatan yang berbeda antara menulis dan ngobrol. ketika menulis, saya hanya mendokumentasikan kehidupan dengan diri saya sendiri, namun dalam bentuk yang otentik, yang bisa dibaca kembali kapan saja di masa depan. sedangkan saat ngobrol, dokumentasi terjadi dua arah. saya mendokumentasikan obrolan saya dengan lawan bicara saya dengan memori otak, yang katanya tak terbatas dan dapat terus terekspansi. begitu juga lawan bicara saya. namun bentuknya tak otentik, maka itu, dokumentasi macam ini hanya bisa dikenang sewaktu-waktu. mungkin saat saya bertemu dengan lawan bicara saya dalam suatu ruang dan waktu di masa depan, atau ketika saya hanya ingin merenung, dan memainkan isi rekaman hidup yang hanya ada di memori otak saya.

jadi, menulis atau ngobrol?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Template developed by Confluent Forms LLC