09 September 2011

menjadi tua

wow. ini benar" post gw yang ke-500.

sekilas tentang latar belakang tulisan ini, gw terinspirasi oleh buku dee yang baru yang gw pinjem dari aryo gara" ngeliat si bayu bawa" buku itu kemaren dan langsung gw tag karena gw ga tau lagi kapan gw bisa baca bebas.

ini bukunya.

jadi apa hubungannya madre dengan menjadi tua?

ada satu cerita dalam buku ini yang mengingatkan gw akan christmas caroling yang gw lakukan saat gw duduk di kelas 3 SMA. secara garis besar, christmas caroling itu adalah berkunjung ke tetangga" dan orang" terdekat pada malam natal, hari natal, atau masa-masa penantian, yang disebut sebagai masa adven. jadi kalo ada film" yang menayangkan sebuah paduan suara anak" yang nyanyi di depan rumah" orang pas suasana menyambut natal, itu salah satu bentuk christmas caroling.

di gereja gw sendiri, christmas caroling ini ditujukan kepada jemaat lansia (lanjut usia) yang 'ditinggalkan' oleh keluarganya, sakit, atau sudah tidak mampu ke gereja lagi. entah kenapa saat itu gw pengen ikutan.


ternyata pilihan gw untuk ikut saat itu ga salah. kelompok caroling gw mengunjungi 3 jemaat lansia. oh ia, di setiap kelompok caroling ada satu orang pendeta atau penatua (semacam pengurus gereja) yang bertugas mendoakan dan mempimpin keberlangsungan caroling kelompok tersebut.

jemaat lansia pertama yang kami kunjungi adalah seorang kakek. beliau baru kena stroke, namun Puji Tuhan saat kami datangi beliau masih bisa berjalan. kakek ini terlihat gagah, matanya juga menyiratkan bahwa ia masih mampu dan mau untuk hidup di dunia ini. ia ditemani oleh anak laki-lakinya yang dengan sangat menyesal, telah bercerai (atau ditinggal terlebih dahulu? gw agak lupa) oleh istrinya. anak"nya juga udah pada gede dan ga tinggal di rumah itu. sehingga beliau harus menghidupi dan mengurus ayahnya.

kakek ini masih semangat ketika kami ajak ngobrol. anaknya juga kelihatan senang mendapati kedatangan kami. yang menusuk hati gw adalah ketika kami bersama-sama berdoa, terdengar sesenggukan dari kakek tersebut. beliau menangis, terharu. beliau begitu tersentuh dengan kedatangan kami, mendapati bahwa masih ada yang peduli kepadanya.

di akhir perjumpaan, anak dari kakek tersebut menawarkan kami, yang kebetulan remaja perempuan semua, boneka" lama dari anak"nya ketika masih kecil dahulu. saat gw masih membayangkan bentuk boneka yang 'utuh' beliau malah memberi kami boneka yang sudah lusuh, berdebu, bahkan mungkin ada binatang" kecil di dalamnya. sekilas, gw jijik, tapi kalo didalami, betapa lamanya bapak ini jauh dari anak"nya. yah, bonekanya aja udah hancur lebur gini. berarti emang udah lama boneka" ini ga ada yang sentuh. dan gw langsung teringat rencana gw untuk menurunkan boneka" kesayangan gw ke anak gw, kalo emang masih layak, dan memuseumkan yang sudah kurang layak dimainin.

kunjungan kedua kami adalah ke rumah seorang nenek yang umurnya udah tua banget. kalo ga salah, udah mendekati 90 tahun umurnya. beliau ibu dari anak" yang sukses dan kaya raya. anak"nya sudah tinggal di luar negeri, tapi masih rajin menjenguk beliau. bahkan beliau diberikan alat pemicu detak jantung yang ditanam dalam tubuhnya, yang menurut gw, harganya tidak murah. beliau begitu dikasihi oleh keluarganya, namun seperti layaknya kaum lansia, beliau membutuhkan perhatian lebih.

ketika kami bersama-sama berdoa, beliau ingin menangis, namun terlihat tak kuat untuk menangis. "begitu banyak perhatian yang saya dapatkan di sini. saya berharap saya mau pindah warga jemaat dari gereja saya yang sebelumnya, tapi susah. saya masih ingin pergi ke gereja, gereja yang sebelumnya agak terlalu jauh." kira" itu kata" yang gw inget keluar dari mulut beliau. betapa bersemangatnya beliau ingin berbakti kepada pencipta-Nya, bahkan hingga ia tak lagi memiliki raga yang kuat. gw bener" terharu di sini.

gw pikir gw udah ga kuat menghadapi caroling yang ternyata menimbulkan beban mental ini. namun ini tinggal kunjungan terakhir. rumah terakhir ini relatif lebih besar dibanding rumah-rumah yang kami datangi sebelumnya. namun rumah itu begitu kosong. hanya ada dua orang di dalamnya. seorang nenek dan seorang pembantu.

nenek ini ternyata hanya tinggal seorang diri. suaminya telah meninggalkannya terlebih dahulu. anak"nya sudah memiliki kehidupan masing" dan sangat jarang mengunjunginya. bahkan ada salah satu anaknya yang berpindah agama karena mengikuti keyakinan pasangannya. ini bukan soal pindah agamanya, namun anak tersebut sejak berpindah agama, tidak pernah lagi mengunjungi rumah beliau setiap natal. lebih parah lagi, ternyata pembantunya ini hanya mengerjakan pekerjaan rumah hingga sore hari, sehingga pada malam hari beliau hanya tinggal seorang diri di rumahnya.

"nggak apa-apa, pak. Tuhan kan tetap bersama saya." ujarnya kepada bapak pendeta di kelompok gw, dengan suara yang, menurut gw, ditegar-tegarkan. kelihatan juga dari matanya bahwa beliau begitu kesepian. ini adalah kunjungan terberat di antara yang sebelumnya, dan bahkan sebelum kami berdoa bersama-sama, beliau sudah terlebih dahulu menangis.

begitua banyak cerita yang gw dapet saat itu. gw takut. gw teringat nyokap bokap gw. sekarang gw udah 20 tahun. nyokap bokap udah mendekati 50 tahun. apa yang bisa gw perbuat untuk mereka? mau tinggal di mana nanti? bagaimana gw akan terus menjalin tali kekeluargaan bersama nyokap bokap gw ketika gw sendiri sudah berkeluarga? nanti nyokap bokap tinggal sama gw apa sama nino?

yang jelas, gw pengen terus bahagiakan mereka berdua :')





btw, ive composed a "musikalisasi puisi" dari salah satu tulisan dee di buku madre. should i post it? should i? should i? aahahahahaa. masih super berantakan, baru ada suara gw tok, bahkan ga ada gitarnya, yeaah. well, should i? nyehehehe.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Template developed by Confluent Forms LLC