03 Oktober 2011

paper GEODESI KELAUTAN buatan saya biar sesekali ada bacaan serius

Positioning pada Marine Seismic Acquisition
Gabriella Alodia (15108018)
Teknik Geodesi dan Geomatika, Institut Teknologi Bandung, 2011

Kata Kunci: Marine Seismic Aqcuisition, ECOS Intergrated Navigation System, DGPS, RGPS.

ABSTRAK
Posisi adalah hal pertama yang dibutuhkan untuk melakukan sebuah survei seismik, baik di darat, maupun di laut. Metode penentuan posisi di laut tentunya berbeda dan lebih kompleks dibandingkan dengan di darat, karena laut sendiri tidak bersifat statis. Makalah ini akan membahas penentuan posisi di laut yang merupakan tahap pertama dari Marine Seismic Acquisition


1. PENDAHULUAN

Marine Seismic Acquisition adalah proses penciptaan dan perekaman data seismik. Akusisi seismik di laut memanfaatkan air gun dalam proses penciptaan getaran serta hydrophone sebagai receiver dalam proses perekaman data. Pada prinsipnya, air gun akan menciptakan suatu gelombang akustik secara periodik yang kemudian ditangkap pantulannya oleh hydrophone. Hydrophone ini sendiri dikonfigurasikan dalam streamer yang berujung pada tail buoy. Getaran yang tertangkap ini kemudian direkam di komputer yang berada di kapal untuk proses selanjutnya.

Kapal Marine Seismic umumnya memiliki dimensi panjang ±75 m dengan kecepatan 5 knot (9,3km/jam). Kapal akan menarik air gun, streamer dengan konfigurasi hydrophone, dan tail buoy sepanjang proses akuisisi. Tail buoy sendiri berfungsi untuk mempermudah kru untuk melihat ujung dari streamer karena streamer tidak sepenuhnya mengambang di permukaan air, melainkan berada sedikit di bawah permukaan laut.

Gambar 1.1
Diagram Marine Seismic Aqcuisition

Proses akusisi ini memiliki beberapa spesifikasi teknis, sesuai dengan kebutuhan dan kesepakatan kerja. Contoh dari beberapa spesifikasi teknis dalam Marine Seismic Aqcuisition ini adalah jumlah maksimum noise yang terekam, resolusi yang diharapkan, serta koreksi pasut, gelombang, dan arus yang harus dilaksanakan.

Hasil dari proses akuisisi ini adalah penampang bumi dalam bentuk 2D atau 3D, tergantung pada jenis surveinya. Survei seismik 2D akan menghasilkan penampang bumi dalam bentuk irisan, sementara survei seismik 3D akan menghasilkan penampang bumi dalam bentuk volume. Survei seismik 3D sendiri merupakan kelanjutan dari proses survei seismik 2D ketika banyak ditemukan jebakan minyak di suatu luasan daerah survei.

Gambar 1.2
Perbedaan hasil survei seismik 2D (kiri) dan 3D (kanan)


2. INSTRUMEN POSITIONING

Instrumen positioning yang digunakan dalam Marine Seismic Aqcuisition telah terintegrasi dalam ECOS Integrated Navigation System. Sistem navigasi ini terdiri atas empat bagian instrumen, yaitu depth controller, vessel navigation, tail buoy navigation, serta lay out visualization. Berikut penjelasan dari tiap bagian instrumen:

-      Depth controller adalah alat yang berfungsi untuk mengontrol agar streamer tetap berada pada kedalaman tertentu.
-      Vessel navigation adalah navigasi untuk kapal survei yang menggunakan metode DGPS (Differential Global Positioning System) karena dalam Marine Seismic Acquisition dibutuhkan informasi posisi secara real-time dengan tingkat ketelitian menengah, yaitu 1 s/d 3 m. Sistem DGPS ini umumnya dibedakan atas Local Area DGPS (LADGPS) dan Wide Area DGPS (WADGPS), sesuai dengan luas wilayah cakupan koreksinya. Posisi kapal yang dimaksud adalah posisi antena GPS yang dipasang di bagian kapal tertentu.
-      Tail buoy navigation adalah navigasi untuk tail buoy yang menggunakan metode RGPS (Relative Global Positioing System) yaitu posisi tail buoy relatif terhadap posisi kapal. Posisi tail buoy ini berfungsi sebagai kontrol posisi agar kapal tetap berada pada jalur survei yang telah direncanakan.
-      Layout visualization adalah visualisasi lintasan seismik yang direncanakan dan harus diikuti sepanjang proses akuisisi data.

Seluruh instrumen ini akan membentuk sebuah jalur survei yang harus diikuti oleh kru dalam proses akuisisi data. Dengan sistem navigasi yang terintegrasi di atas, kapal akan berjalan sesuai dengan jalur teoritik yang telah ditentukan sebelumnya.

3. PENGOPERASIAN KAPAL

Sebelum kapal dibawa ke laut, kru telah diberi informasi mengenai survey layout serta desain seismik yang akan dijalankan serta banyaknya instrumen yang akan di-deploy. Informasi yang diberikan oleh navigator, dalam hal ini ahli geodesi, adalah posisi di mana lintasan seismik dimulai, berakhir, serta interval penembakan gelombang akustik. Seluruh informasi ini didapatkan dari Integrated Navigation System yang telah dijelaskan sebelumnya.

Selanjutnya, kapten kapal bertugas untuk memastikan bahwa kapal berjalan dalam keadaan baik dan kaptenlah yang memegang kendali kapal. Sembari kapal berjalan melalui lintasan seismik yang direncanakan, terdapat kru yang bertugas untuk memonitor angin dan cuaca.

Ketika area survei telah ditemukan (melalui koordinat start dari lintasan seismik yang dimaksud), observer, dalam hal ini ahli geofisika akan men-deploy serta mengecek streamer, juga menghubungkan seluruh instrumen dengan komputer yang berada di dalam kapal. Dalam pengecekan streamer, kru mekanik juga harus mengecek array dari air gun. Setelah pengecekan instrumen selesai, navigator bekerjasama dengan observer dan kru mekanik menempatkan tail buoy sebagai kontrol posisi.

Setelah seluruh proses tersebut dilaksanakan, barulah kapal yang telah terhubung dengan air gun, streamer, serta tail buoy dapat dijalankan. Prinsipnya, kapal akan menarik seluruh instrumen yang telah terhubung dengan arah tetap, sehingga didapatkan penampang yang berada pada satu lintasan yang lurus.

Gambar 3.1
Kapal survei yang menarik streamer.

4. KESIMPULAN

Posisi yang dibutuhkan dalam Marine Seismic Aqcuisition adalah posisi yang bersifat real-time, karena objek yang akan ditentukan posisinya, dalam hal ini kapal survei, merupakan objek yang bergerak. Selain posisi kapal, juga diperlukan data posisi tail buoy sebagai kontrol posisi air gun dan streamer yang berada di antara kapal dan tail buoy. Penentuan posisi tail buoy ini dilakukan relatif terhadap posisi kapal.

REFERENSI

Abidin, H. Z. 2007. Penentuan Posisi dengan GPS dan Aplikasinya. Pradnya Paramita, Jakarta.

Denni Pascasakti. 2010. Peran Ilmu Geodesi dalam Dunia Perminyakan: Akusisi Data Seismic di Darat (Part II). http://dennipasca.blogspot.com/2010/03/peran-ilmu-geodesi-dalam-dunia_28.html

Fugro, Offshore Survey Division, Positioning. 2007. Starfix.RGPS. http://www.fugrosurveytechnical.com/downloads/RGPS.pdf

International Association of Geophysical Contractors (IAGC). 2002. Marine Seismic Operations, An Overview. http://www.iagc.org/attachments/contentmanagers/4352/Marine%20Seismic%20Operations%20Overview.pdf

Schlumberger. 2011. Oilfield Glossary. http://www.glossary.oilfield.slb.com

7 komentar:

  1. wah mantep nih artikel,, ini bakal jadi TA maneh ato??
    coba dipublish ke fesbuk terus pada ditag-tagin,, kali aja ada yang tertarik buat ngerekrut maneh ato ngasih scholarship ke maneh ntar...:D

    BalasHapus
  2. btw link yang Schlumberger Oilfield Glossary salah ketik tuh,, 's'nya kurang satu..

    BalasHapus
  3. oia, udah gw benerin mar, hehe..
    aa masa paper beginian doank bsa bikin scholarship~~ hehe.. ngga mar, ini mah tugas paper aja, tapi entah knp niat bet ngerjainnya.. kalo bisa punya kesempatan TA di bagian ini, luar biasa sekaliiiii, hehehehe..

    BalasHapus
  4. yah kali aja,, seenggaknya kemungkinan pembacanya bakal lebih banyak dibanding kalo cuman di blog...
    papper tugas mata kuliah apaan emang ini gep??

    BalasHapus
  5. GDKL, seperti yg gw tulis di atas, hehe

    BalasHapus
  6. gw tuh mau search buat tugas altimetri geb, yg muncul blog ini.. mantep deh geb, hahaha

    BalasHapus

Template developed by Confluent Forms LLC