10 Oktober 2011

serunya HIDROGRAFI OPERASIONAL

oke, jadi ceritanya sekarang gw lagi belajar buat UTS GD4110 - Hidrografi Operasional, atau yang biasa disingkat dengan: hidro ops. secara garis besar, mata kuliah ini membahas tentang hal" operasional yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan survei hidrografi. lebih ke hal" teknis seperti alat" apa saja yang dibutuhkan, berapa lama survei berlangsung, dengan kendaraan apa kita akan menuju lokasi survei, berapa SDM yang dibutuhkan untuk pelaksanaan survei, dsb yang nantinya dituangkan dalam bentuk rencana kerja dan pada akhirnya, RAB alias Rencana Anggaran Biaya.

dalam pembuatan RAB, gw masih odong, karena gw ga tau berapa itu harga nyewa echosounder, GPS, dsb dsb. mungkin perlu gw cari sekarang, buat jaga" kalo ternyata ntar open book #amin!

kenapa gw bilang seru?

ya seru aja, hahaha. mempersiapkan survei di laut itu lebih banyak macem"nya daripada di darat. biaya, jelas lebih tinggi. untuk nyewa kapal dengan peralatannya aja udah abis berapa coba. tapi SDM yang dibutuhkan lebih sedikit, palingan cuma orang" yang ngerti survei itu buat apa, datanya diapain, dsb. cukup sedikit tenaga lokal yang dibutuhkan dalam survei hidrografi, soalnya sekali survei ya cuma butuh satu kapal. palingan kalo emang tujuannya survei seismik, butuh beberapa tenaga lokal buat membuka gulungan dan menggulung kembali kabel hydrophone super panjang dan (sepertinya) berat itu.

nah, karena biaya operasionalnya lebih mahal, sekali survei itu yang disurvei macem". jadi misalnya ada proyek pembuatan pipa bawah laut. berarti kita harus memetakan daerah di mana pipa bawah laut itu rencananya akan ditempatkan. karena dasar laut itu ga bisa dipetain secara langsung kayak di darat (ga bisa disentuh dan terlalu dalam untuk dilakukan fotogrametri, ga dapet cahaya matahari soalnya), alat buat memetakan dasar laut ini macem" dan beda" fungsinya.

pertama, kedalaman. jelas, kita mesti tahu peta kedalaman dasar laut di lokasi survei. kedalaman ini diukur dengan metode batimetri, alatnya: echo sounder. digunakan echo sounder karena alat tersebut memanfaatkan prinsip gelombang akustik. transduser mengirim gelombang ke dasar laut, dipantulkan, dan diterima kembali pada interval waktu tertentu, sehingga dapet deh jaraknya. dibanding pake metode lead-line, yang nyemplungin kabel ke dasar laut, kan capek bro. jadi, inti dari survei batimetri ini adalah, perkiraan kedalaman dan ketelitian yang dibutuhkan. perkiraan kedalaman ini kita cari dari informasi peta dengan skala yang lebih besar yang sudah ada terlebih dahulu. setelah perkiraan kedalaman dapet, baru kita bisa nentuin, echo sounder macam apa yang dibutuhkan. single beam ato multi beam? single-array ato multi-array? beamwidth-nya berapa derajat? dsb.

perbandingan survei lead-line, single-beam, dan multi-beam.

naah, untuk menentukan kedalaman, tentunya butuh referensi nol. referensi nol ini didapatkan dari yang namanya pengamatan pasut. karena kita jalannya make kapal, ga mungkin donk melakukan pengamatan pasut dengan palem? makanya dibutuhkan instrumen pengamatan pasut yang bisa dibawa ke kapal, contohnya yang gw tau ya portable tide gauge.

selain referensi nol, dibutuhkan juga yang namanya kalibrasi. kalibrasi buat batimetri ini disebut sebagai bar check. caranya adalah dengan nyemplungin satu piringan dengan kedalaman tertentu, tapi ga terlalu dalam (contoh: 5 m). piringan ini letaknya mesti tegak lurus dengan transduser. di sekeliling piringan ini ada rantai baja yang menghubungkan piringan dengan kapal. terus, ditembaklah si piringan itu, ping! prinsip dari bar check sendiri adalah membandingkan data kedalaman yang didapat dari echo sounder dengan kedalaman yang 'sebenarnya,' alias panjang rantai. dari perbandingan kedua data tersebut, didapatlah koreksi bar check.

itu baru satu, mwahahaha! belum lagi koreksinya. ada koreksi draft transducer (kedalaman transduser dari muka air laut), settlement and squat (perubahan orientasi transduser saat kapal diam dan kapal bergerak, jika diperlukan), kecepatan kapal, serta pasut dan bar check yang tadi dijelaskan.

kedua, kita juga butuh informasi fitur dasar laut. misalnya, ternyata di sana ada bangkai kapal, terus kira" jenis sedimennya apa, dll. instrumen pengukurnya bernama side scan sonar. sama seperti echosounder, prinsipnya adalah gelombang akustik. jadi si side scan sonar ini yang bertugas nge-scan fitur" bawah laut itu.

contoh scanning hasil side scan sonar.

selain menggunakan side scan sonar, kita juga bisa menggunakan ROV (Remotely Operated Vehicle) yang menggunakan gelombang elektromagnetik untuk "memotret" fitur dasar laut. kelemahannya, ROV tergantungan banget sama keberadaan cahaya, jadi mesti punya "penerang" kalo maus survei laut dalam. secara lokasi pengambilan data, mereka sama" ngambang di dekat dasar laut, tapi kalo side scan sonar ngambilnya ke arah bawah (vertikal), ROV ngambilnya ke arah depan-belakang-kanan-kiri (horisontal). jadi keliatan deh, itu beneran bangkai kapal ato cuma karang yang bentuknya kayak bangkai kapal #halah!

contoh citra hasi ROV.

ketiga, kita juga membutuhkan informasi apakah ada kabel/pipa/benda "asing" lain yang sudah tertanam di dalam dasar laut. makanya kita pake yang namanya magnetometer. yaaa yang ini ngerti lah ya prinsipnya. kayak metal detektor. hehehe.

keempat! dibutuhkan juga informasi sub-bottom alias penampang dasar laut. kan kita mau pasang pipa, kita juga mesti tau material pembentuk dasar laut itu apa aja. alatnya bernama sub-bottom profiler. dari alat ini kita bisa tau lapisan" yang ada di dasar laut itu apa aja dan nantinya bisa dianalisis, di mana kira" tempat pengambilan sampel sedimen yang cocok.

contoh profil hasil sub-bottom profiler.

kalo emang niat langsung ngolah data di kapal, sediment sampling ini bisa dilakukan langsung. ato, bisa dilakukan di lain hari, hehe. sediment sapling dilakukan dengan menggunakan core ato grab. core itu semacam pipa, ditaronya di perbatasan antara 2 sedimen berbeda. jadi pipa itu dicolokin, terus diambil lagi. terus pipa itu dibelah secara vertikal (kalo dari atas pipa, jadi bentuk setengah lingkaran), dapet deh 2 sedimen berbeda dengan perbatasannya. lain dengan grab, grab ini cuma ngambil satu contoh sedimen aja. prinsipnya kayak ngambil boneka di pusat" permainan macam timezone gitu, hehe.

udah sih, itu aja. kayaknya dah semua yang gw jelasin. oh iya, satu lagi yang kelupaan dan justru paling penting sedunia. instrumen penentuan posisi! biasanya kalo di kapal itu sekarang udah ga jamannya lagi pake sextant, polar, dan alat" optis lainnya. sekarang jamannya satelit, brooo. GPS brooo, GPS! metodenya adalah diferensial, yaitu posisi kapal ini diikatkan pada stasiun statis yang berada di darat, contoh paling gampang, pelabuhan. jadi didapatlah posisi kapal secara real-time. begituuu.

prinsip differential positioning.

oh iya, ada juga pengukuran STPD alias Salinity, Temperature, Pressure, and Density. semuanya ini bisa diukur dengan alat yang judulnya CTD (Conductivity-Temperature-Depth). hebat ya teknologi jaman sekarang, ckckck. tapi kalo mau repot satu" akibat budget kecil, salinitas bisa diukur dengan salinometer, temperatur pake termometer, tekanan bisa dari pressure gauge, density bisa dengan niskin bottle sampling. si niskin bottle sampling intinya adalah mengambil sejumlah volume air dan menimbang massanya. terus dapet deh massa jenisnya. kan massa jenis itu massa per satuan volume, betul? fungsi dari pengukuran STPD sendiri adalah untuk mengetahui karakter air pada lokasi survei, karena beda karakter, beda juga perambatan gelombang akustiknya.

begitulah kira" gambarannya. sebenernya ini juga belom semua sih, ada yang namanya ngukur gelombang, arus, terus ada juga survei yang butuh penyelam in-situ, dsb! itulah mengapa saya senang sekali belajar hidrografi operasional, sebagai kelanjutan dari mata kuliah hidrografi yang sudah gw ambil sebelumnya (hidro1, hidro-akustik, SLP, dan err PBL? heheh). banyak hal menarik yang mesti direncanakan, waaa seruuu!! kira" proyek" yang biasa direncanakan dalam survei hidrografi itu adalah:
  1. Pengadaan stasiun pasut.
  2. Pengukuran kedalaman perairan (batimetri).
  3. Pengukuran parameter dinamika air laut (arus, suhu, salinitas).
  4. Survei seismik di laut.
  5. Pengerukan dasar laut (dredging).
yang udah gw bahas di atas adalah yang nomor 2 dan 3. nomor 1 cuma sekilas, pokoknya pasut itu salah satu gunanya adalah menentukan referensi nol dari suatu survei hidrografi. stasiun pasut ini juga penting kalo mau bikin pelabuhan ato konstruksi yang deket laut. intinya, biar bangunannya ga kena 'banjir' saat muka laut lagi tinggi (High Water Level). nomor 4, bisa dibaca di paper GEODESI KELAUTAN yang udah gw post sebelumnya. nomor 5, memang belum gw bahas. mungkin akan dibahas, mungkin tidak. hehe. inti dari semuanya mah, berapa budget-nya, waktunya berapa lama, baru deh nentuin alat dan SDM. begituh! #terlihatmudahpadahalmahkatagwsusah!

begini kira" kalo semua jenis survei dilakukan bersamaan.
rame bukaan? ahahaha~

aaa seru! #semogaUTSberesbagusamin!

8 komentar:

  1. Sayangnya UTS-nya henggg... hengg... no.3 salang nangkep bagaimana mengatasi "KALIBRASI" dan no.4 ga ada mobilisasi dari bandung ke kalimantan, hahaha please lah gue bahas UTS-nya disini :)) tapi gw setuju kok gab, HidroOps menarik, selama itu Pak Tono :D

    BalasHapus
  2. ah sudahlaaaahh.. nomor empat saya masih baru sampe tahap sketsa jalur, nyahahahaaa~~ ayo rebut kejuaraan presentasi hidro ops! #hoshhosh

    BalasHapus
  3. keren banget ulasannya..
    matakuliah hidronya detail banget ya...sampe ada bbrapa mata kuliah lanjutannya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih, hehe.. masih amatir nih nulisnya.. geodesi jg ya? luar biasa, haha..

      Hapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  5. geeeebb gw search di google ttg survey batimetri dan keluarlah tulisan lu ini hahaha... thanks banget geb, sangat membantu gw mengingat2! cepat pulang, kita maen, aku kangen :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. samasama reneicaaa! senang kesotoyan gw di masa lalu bisa membantu hehe :)

      Hapus
  6. keren.. seru..

    BalasHapus

Template developed by Confluent Forms LLC