03 November 2011

Skema Pemantauan Deformasi Gunung Api secara Episodik dengan Metode Survei GPS Statik

Sebelum membaca penjelasan di bawah, buka dahulu gambar di bawah ini. Caranya, klik kanan pada gambar, open in new tab/window. Begitu gambar dengan resolusi sebenarnya terbuka, dibaca, coba untuk mengerti, dan pikirkan beberapa pertanyaan jika Anda belum mengerti maksud dari beberapa elemen di gambar tersebut.

Klik kanan, open in new tab/window.

Mengerti? Silakan tinggalkan post ini.
Belum mengerti? Silakan lanjut membaca.

Hal pertama yang perlu dimengerti adalah skema bagaimana pemantauan GPS, yang didukung dengan pemantauan fisis dapat mempelajari karakteristik suatu gunung api, sehingga dari karakteristik tersebut didapat gejala-gejala kapan gunung api tersebut akan meletus. Gunung api sendiri memiliki proses inflasi, yaitu ketika perut gunung api tersebut dipenuhi oleh lava, sehingga gunung api mengalami "penggemukan." Setelah letusan terjadi, gunung api mengalami proses deflasi, di mana gunung api tersebut mengalami "penyusutan" dan kembali ke bentuknya semula. Proses inflasi dan deflasi ini ditandai dengan bergesernya posisi titik-titik tertentu di tubuh gunung api tersebut. Pergeseran dari titik-titik inilah yang dicari dari pemantauan GPS.

Proses inflasi dan deflasi.

Pemantauan GPS ini sendiri dilakukan dengan metode survei GPS statik, di mana GPS diletakkan di titik-titik tertentu yang mewakili bentuk fisis gunung api tersebut. Titik-titik ini dimonumentasi sehingga dapat dilakukan pemantauan GPS secara episodik, yaitu setiap beberapa periode, pada titik-titik yang sama. Data-data pemantauan GPS dari beberapa periode ini diolah dan di-plot grafik pergerakannya selama beberapa tahun, untuk mengetahui pergeseran titik secara temporal. Selain grafik, dibuat juga vektor pergerakan titik-titik tersebut, untuk mengetahui pergeseran titik secara spasial.

Contoh vektor dan grafik pergeseran titik-titik ini dapat dilihat pada gambar.

Ketelitian dari metode survei GPS statik berada pada orde cm, sehingga metode ini cocok digunakan untuk pemantauan deformasi gunung api secara teliti dan berkala. Contoh sebaran ketelitian dari metode survei GPS statik dapat dilihat pada gambar. Dapat dilihat bahwa sebaran kesalahan dari tiap baseline masih berkisar pada 0-20 ppm.

REFERENSI
Abidin, H. Z. Penentuan Posisi dengan GPS dan Aplikasinya. Pradnya Paramita, Jakarta.
Hawaiian Volcano Observatory. 1995. Measuring how Volcanoes Move with Satellites. USGS. http://hvg.wr.usgs.gov/volcanowatch/1995/95_07_14.html/
Kapoho, L. Inflation - Deflation Roller Coaster & Rain-bows &Voggy Crescent Moon. Hawaiian Lava Daily. http://hawaiianlavadaily.blogspot.com/
Wahana Komunitas Geografi SMA. 2011. Letusan Gunung Apihttp://geografi-geografi.blogspot.com/2011/05/letusan-gunung-api.html

3 komentar:

  1. dahulu pernah ngeblog,tapi isinya galau selalu. wah tidak pernah kepikiran menulis hal seperti ini mbak #intinyasayasalut

    #ijinpantauterus :D

    IMG09069

    BalasHapus
  2. oiya misal rentang inflasi maks kurang dari orde Cm apakah masih memungkinkan untuk terjadinya letusan? sama masih bingung kenapa gps bisa mencapai orde cm.siapa tau punya source berbahasa indonesia.hehe

    BalasHapus
  3. haha makasih po.. karena GPS ordenya cm, ya kalo inflasinya < cm, ga bisa kedeteksi dgn GPS.. nah kalo soal kenapa GPS bisa sampe orde cm, bisa baca bukunya pak hasan yang Geodesi Satelit sama Penentuan Posisi dengan GPS dan Aplikasinya soalnya gw juga ga gt ngerti, hahaha..

    BalasHapus

Template developed by Confluent Forms LLC