25 Desember 2011

this year's christmas is almost over


dan cuma orang" yang nonton flight of the concords yang ngerti maksud dari gambar ini, hahaha. jadi pengen nonton lagi, sayang hanya bertahan 2 season.

24 Desember 2011

based on my two last posts..

..i could say that i am such an emotional person. please someone tell me how to handle it. i can't help but to express it! my whole life is full of "real-life-memes-made-by-my-face-and-reaction" spontaneously!

memes: only some representation of my daily basis reactions.
oh, FYI, i only use english when i'm mad, or i want to express something beyond my normal consciousness. believe me, it feels better. karena saat gw marah" ato mengekspresikan diri dengan bahasa inggris, gw selalu membayangkan gw menjadi seorang wanita afro-american yang lagi ngebacot: "you ain't gonn' do it no more, not on me, uh-uh!"

what if..

1.) ..the sunshine of your life weren't really a sunshine?
2.) ..it were only a moonlight?
3.) ..this post cancelled the "made my day" statement on the last post?

is this something called pragmatism?

well it is that hard, huh? to do something not (only) for yourself, hahahaaa.

makasih udah bikin gw tertawa terbahak-bahak dini hari ini, already made my day :D


21 Desember 2011

tak henti berharap


masnyaaa manggung di indonesia apah masnyaaa mumpung masih gantenggg hahahahaha

09 Desember 2011

saya cuma berharap ujian ujian saya di semester ini tidak merusak rencana jangka panjang saya

pleeeeeaaaseeee..

Pemanfaatan Satelit Altimetri dalam Bidang Geodesi Kelautan

Gabriella Alodia (15108018)
 Teknik Geodesi dan Geomatika, Institut Teknologi Bandung, 2011 

Kata kunci: satelit altimetri, ERS-1, ERS-2, TOPEX/Poseidon.

ABSTRAK
Pemanfaatan altimetri berkembang pesat dan menjadi media yang umum digunakan untuk pemodelan muka bumi di wilayah perairan. Hingga sekarang, satelit altimetri telah dimanfaatkan oleh para ilmuwan dalam bentuk berbagai misi peluncuran. Paper ini akan membahas beberapa misi satelit altimetri yang telah memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang geodesi kelautan.

1.    PENDAHULUAN

Wilayah bumi terdiri atas wilayah yang tertutup air dan daerah yang tidak tertutup air. Daerah yang tertutup air ini memberikan sumbangsih sebesar 2/3 dari seluruh luas permukaan bumi, sehingga diperlukan pengamatan geodetik untuk mendapatkan data dari daerah yang tertutup air tersebut. Seiring perkembangan teknologi, kebutuhan akan data-data kelautan ini semakin meningkat, sehingga dibutuhkan suatu metode yang efektif dalam pemodelan muka bumi di daerah-daerah yang tertutup air. Salah satu metode yang umum digunakan saat ini adalah dengan menggunakan satelit altimetri.

2.    PRINSIP DASAR SATELIT ALTIMETRI

Satelit altimetri mempunyai tujuan untuk memahami secara lebih mendalam sistem iklim global serta peran yang dimainkan oleh lautan di dalamnya. Sejak diluncurkan untuk pertama kalinya pada 1973, satelit altimetri telah dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan tiga obyektif ilmiah jangka panjang, yaitu untuk mengamati sirkulasi lautan global, memantau volume dari lempengan es kutub, dan mengamati perubahan muka laut rata-rata global. Seiring perkembangannya, satelit altimetri kini dapat mendukung penentuan topografi permukaan laut, penentuan topografi permukaan es, penentuan geoid di wilayah lautan, penentuan karakteristik laut dan eddies, dsb.

Informasi utama yang didapatkan dari satelit altimetri adalah topografi muka laut, yang dilakukan dengan mengukur tinggi satelit di atas permukaan laut (a) dengan menggunakan waktu tempuh (Δt) dari pulsa radar yang dikirimkan ke permukaan laut dan dipantulkan kembali ke satelit, yang dapat dirumuskan sebagai berikut:

Tinggi satelit yang digunakan adalah tinggi rata-rata, untuk mengeliminir efek dari gelombang.

Gambar 2.1 Prinsip Dasar Satelit Altimetri

Setelah a didapatkan, maka topografi muka laut (H) dapat dihitung dengan mengkombinasikan data a dengan undulasi geoid (N), efek pasut instan (ΔH), kesalahan orbit (d) serta tinggi elipsoid dari satelit altimeter (h), yang dapat dirumuskan sebagai:

 
Gambar 2.2 Geometri Pengamatan Satelit Altimetri

Kini satelit altimetri telah memiliki resolusi data ukuran jarak sampai dengan 1-2 cm, di mana tingkat ketelitian akhir dari jarak ukuran tersebut masih sangat bergantung pada tingkat kesuksesan pereduksian dan pengeliminasian dari kesalahan dan bias dari data ukuran.

3.    MISI SATELIT ALTIMETRI

Setiap peluncuran satelit altimetri memiliki objektif tertentu. Beberapa contoh misi satelit altimetri yang telah dilaksanakan antara lain:

3.1.  ERS-1

ERS-1 (The European Remote Sensing) merupakan satelit altimetri milik eropa pertama yang dilengkapi dengan altimeter radar, yang berfungsi dalam menentukan ketinggian muka laut secara akurat,tinggi gelombang laut signifikan, berbagai parameter es, serta estimasi dari kecepatan angin di lautan.Data-data ini digunakan untuk memantau sirkulasi lautan global, sistem arus regional, dan mempelajari medan gaya berat di laut. Posisi satelit ini sendiri ditentukan oleh instrumen Precise Range and Range-rate Equipment (PRARE) serta Laser Retro-reflectors (LRR) yang tertanam di dalamnya. Satelitini telah memberikan sumbangsih dalam penelitian oil slicks akibat kebocoran kapal tanker serta penelitian El Niño dan dampaknya pada iklim global.

Gambar 3.1.1 Peta Mean Sea Level hasil pemantauan ERS-1.

3.2.  ERS-2

ERS-2 merupakan kelanjutan dari satelit ERS-1 dengan beberapa penyempurnaan instrumen. ERS-2dapat mengukur kadar lapisan ozon di atmosfer dan dapat digunakan sebagai media pemantauan vegetasi. Data yang diukur oleh satelit ini adalah kecepatan dan arah angin serta ketinggian, panjang, dan arah gelombang laut. Data-data tersebut diukur oleh instrumen gelombang mikro aktif. Data jarak antara satelit dan muka laut maupun permukaan es serta ketinggian gelombang laut rata-rata diukur oleh instrumen radar altimeter.ERS-2 telah memberikan sumbangsih dalam penentuan Sea Surface Topography (SST) dalam penelitian kenaikan muka laut, serta berbagai peta ketinggian gelombang, athmospheric ozone, dsb.

Gambar 3.2.1 Peta Ketinggian gelombang laut hasil pengukuran
Altimeter Radar ERS-2, Musim Panas 1995.

3.3.  TOPEX/Poseidon

Ocean TOPography Experiment (TOPEX)/Poseidon merupakan satelit altimetri yang didesain untuk memantau sirkulasi lautan dan interaksinya dengan atmosfer. Satelit ini merupakan pelengkap dari berbagai program oseanografik dan meteorology internasional, termasuk World Circulation Experiment (WOCE) dan Tropical Ocean and Global Atmosphere (TOGA), yang keduanya disponsori oleh World Climate Research Program (WRCP).

TOPEX/Poseidon mengukur ketinggian muka laut pada jalur yang sama setiap 10 hari menggunakan dual frequency altimeter yang dibuat oleh National Aeronautics and Space Administration (NASA) serta single solid-state altimeter yang dibuat oleh Centre National d’Etudes Spatiales (CNES). Informasi muka laut ini digunakan untuk menghubungkan perubahan arus di laut dengan pola atmosferik dan climate.

Penentuan ketinggian satelit altimetri ini sendiri dilakukan dengan menggunakan teknik SLR, DORIS, dan GPS yang dilakukan secara independen. Data ketinggian satelit altimetri ini dibutuhkan untuk kalibrasi altimeter. Dengan kombinasi tersebut, TOPEX/Poseidon dapat melakukan pengamatan ketinggian muka laut dengan tingkat akurasi hingga 3 cm.
Hingga saat ini TOPEX/Poseidon telah memberi sumbangsih dalam penelitian dan deteksi El Niño, tracking arus laut, pemantauan kecepatan angin lewat analisis kelautan, serta pemantauan muka laut global secara presisi.
 
Gambar 3.3.1 Peta ketinggian muka laut global dari satelit TOPEX/Poseidon.

4.    KESIMPULAN

Satelit altimetri dapat digunakan dalam berbagai pengamatan di bidang geodesi kelautan. Satelit-satelit altimetri yang telah diluncurkan antara lain ERS-1, ERS-2, dan TOPEX/Poseidon. Kapabilitas dari satelit altimetri di setiap peluncurannya mengalami perkembangan baik dari segi kualitas data serta instrumentasinya. Dilihat dari perkembangannya, satelit altimetri masih akan tetap digunakan sebagai metode pengamatan geodetik di daerah lautan yang paling efektif.

REFERENSI

Abidin, H. Z. 2001. Geodesi Satelit. Jakarta: Pradnya Paramita.
Daly, J. L. 2001. TOPEX-Poseidon Radar Altimetry: Averaging the Averages. http://www.john-daly.com/altimetry/topex.htm
ESA. ERS-1 Satellite Concept (1992). http://earth.esa.int/ers/satconc/
ESA. ERS-2 Takes Over Where ERS-1 Left Off (1995). http://earth.esa.int/ers/eeo/satconc2.html
NASA. TOPEX/Poseidon. http://ilrs.gsfc.nasa.gov/satellite_missions/list_of_satellites/topx_general.html
NASA. ERS-1. http://ilrs.gsfc.nasa.gov/satellite_missions/list_of_satellites/ers1_general.html
NASA. ERS-2. http://ilrs.gsfc.nasa.gov/satellite_missions/list_of_satellites/ers2_general.html
Setyajadi, B. 2007. Geodesi Kelautan: Pendahuluan. Bandung: Teknik Geodesi dan Geomatika, Institut Teknologi Bandung.

08 Desember 2011

13.00 bukan 15.30

Hidrografi II Rock n' Roll. Terimakasih Bapak Dudi TU dan Ibu Dina TU Hidro.

Apakah pemantauan deformasi secara geodetik dapat memprediksi pergerakan ke depan atau mempelajari pergerakan yang sudah-sudah?

Rangkuman Bagian Plate Motions and Plate Boundary Deformation dari Paper “GPS Applications for Geodynamics and Earthquake Studies”

Pemantauan deformasi secara geodetik memang dapat memprediksi pergerakan ke depan, namun tidak sepenuhnya dapat mempelajari pergerakan yang sudah-sudah. Pergerakan yang telah terjadi dapat dipelajari kembali selama pemantauan dilakukan saat pergerakan itu terjadi (ada data pemantauan).

Pergerakan ke depan, khususnya pergerakan lempeng, dapat diprediksi dari vektor pergeseran spasial dari suatu pemantauan geodetik yang dilakukan secara episodik. Vektor-vektor pergeseran posisi dari titik-titik yang dipantau ini merepresentasikan arah dan kecepatan pergerakan lempeng setiap tahunnya. Sebagai contoh, dari pengamatan GPS yang dilakukan oleh Belvis et al (1995) dalam penentuan rapid convergence antara Lempeng Pasifik dan Australia di Tonga Trench, didapatkan bahwa stasiun-stasiun GPS di sebelah selatan Tonga mengalami pergerakan sebesar 91 ± 4 mm/tahun, sementara stasiun-stasiun GPS yang berada di sebelah utara Tonga mengalami pergerakan sebesar 159 ± 10 mm/tahun. Stasiun-stasiun yang mewakili kawasan Tonga Trench ini bergerak menjauhi Lempeng Australia.

Gambar 1 Vektor pergerakan stasiun GPS yang mewakili Lempeng Australia dan Lempeng Pasifik. Dapat dilihat bahwa kedua lempeng bergerak saling menjauh.

Sementara untuk mempelajari pergerakan yang telah terjadi, harus dimiliki data pemantauan deformasi pada kurun waktu tertentu, karena metode geodetik ini sangat bergantung pada data pemantauan. Jika didapatkan data pemantauan yang cukup, maka gerakan-gerakan yang telah terjadi dapat dipelajari dan direkonstruksi kembali, sehingga didapat perkiraan posisi lempeng pada suatu masa tertentu, namun data pergerakan ini sifatnya masih data kasar. Diperlukan pula studi geofisika dan geologi dari lempeng tersebut untuk mempelajari pergerakan yang telah terjadi di masa lalu.

Pemantauan secara geodetik ini tidak hanya dapat memprediksi dan mempelajari pergerakan lempeng bumi. Deformasi struktur pun dapat dipantau pergerakannya secara geodetik dengan prinsip yang sama, sehingga jika terdapat kemungkinan bangunan tersebut akan mengalami deformasi yang menyebabkan kehancuran struktur, tindakan-tindakan preventif dapat dilakukan.

05 Desember 2011

terinspirasi oleh nandhy, yang terinspirasi oleh keke


my super-ribet mindmap. terbukti bahwa otak gw isinya sangat amat berantakan, nyahahaha. bukan bermaksud apa-apa, hanya ingin minta tolong didoakan, semoga apa yang tertulis di sana bukan hanya untuk diri sendiri, amin. still, the big question is: NIKAH! WHO? WHEN? HOW?!

mindmap ini dengan mudah dapat dibuat di sini, dan klik di sini buat liat punya nandhy :)

04 Desember 2011

what i love about bedtime stories

this is a story about a turkey and a duck.
hoahm, i already knew about that story.
well then..

it's about a duck and a monkey.
BAHAHAHAHAHAHA.

    IV-V-VI-I-II-III

    indeed
    Template developed by Confluent Forms LLC