29 Maret 2012

aku pengen pake baju sekolah lagi :'(

*diucapkan dengan nada sok imut.

baru kangen sekolah di masa akhir perkuliahan. pengen nangis rasanya, hahaha.

27 Maret 2012

Never give-UP Dude! You will never know what lies ahead until you tried!
-dari facebooknya lukman wirianto-

26 Maret 2012

satu lagi!


satu lagi, kawan! sedikit lagi! sebentar lagi!
http://issuu.com/geosphere/docs/geosphere-5th?mode=window&pageNumber=1
i'm so proud of you guys :')

some quotes

yang dia katakan:
"hidup itu gampang kok. tinggal milih aja."
yang tidak dia katakan:
"yang susah itu, ya ngejalanin pilihan dengan konsekuensi terlewatnya pilihan lain yang jatuh pada waktu yang sama."

yang dia katakan:
"makanya, punya kelebihan tuh jangan banyak-banyak."
yang tidak dia katakan:
"kalo ga ada spesialisasi ya apa bedanya dengan orang yang cuma punya sedikit kelebihan?"

yang dia katakan:
"di atas langit, masih ada langit."
yang tidak dia katakan:
"tabah sampai akhir."

19 Maret 2012


signature style, saat saya sudah jadi dosen senior nanti, mwahahahahaa.

janji, ini post terakhir untuk hari ini.

"Puisi itu harus bisa ngasih PR untuk pembacanya."

- pak acep iwan saidi, kelas apresiasi sastra -

kalau saya punya uang banyak,

mungkin sebagian besar uang itu akan saya dedikasikan kepada karya seni.

bukannya tidak menghargai dan lantas menomor-duakan orang" berkekurangan dan berkesusahan. saya hanya tumbuh dari dunia itu, dunia seni.

tanpa sadar saya mengakrabi sastra, mencintai suara, dan menikmati berbagai jenis pertunjukan. ah, bukan hanya untuk kenikmatan. saya tahu, setidaknya, sedikit, tentang kehidupan para penggiat seni. saya memilih untuk tidak menjadi pekerja seni, bukan berarti saya tidak bisa dan tidak mau mengapresiasinya. saya punya keyakinan bahwa, penonton memiliki peran penting dalam sebuah kegiatan berkesenian, apa pun jenisnya. dan saya, memilih untuk tetap menjadi penonton, walau sesekali, ingin mengecap indahnya diapresiasi.

saya hanya ingin mereka terus berkarya, pengobat kejenuhan di negara kotor ini.

terimakasih untuk papa, om benny, dan om yaya, yang telah memperkenalkan saya terhadap dunia tersebut.
selamat berjuang di sana, jika memang itu yang kamu inginkan, no.
ah, kenapa?
kenapa kamu harus di jakarta?

seandainya bandung seperti jakarta,

atau jakarta seperti bandung..

tidak banyak kota di indonesia yang pernah saya kunjungi. di sumatera, saya pernah mengecap kota padang, bukittinggi, jambi, dan dua desa di lampung. di jawa, saya pernah mengecap jakarta, depok, bandung, bogor, jogja, demak, surabaya, dan blitar. kalau bali, ya, saya pernah ke beberapa kota di sebelah selatan, tengah, dan utaranya. itu sudah, jika 'mengecap' diartikan sebagai 'pernah setidaknya tidur sehari dua hari di sana.'

dari seluruh kota tersebut, hanya jakarta dan bandung yang pernah saya kecap lebih lama. oke, mari kita keluarkan depok karena hingga sekarang saya tidak pernah merasa menjadi 'orang depok' lantaran domisili yang saya kenal dengan nama 'cinere' itu sudah tiga kali berganti nama, dari 'bogor,' 'jakarta selatan,' hingga sekarang, 'depok.'

kembali ke jakarta dan bandung, dua kota ini memiliki atmosfer yang, menurut saya, cukup berbeda.

jakarta yang panasnya selalu bikin emosi di siang bolong, berbanding terbalik dengan bandung yang, bahkan di siang hari, rasanya tidak terlalu panas. malamnya? bandung serasa menggigit.

atmosfer seni juga berbeda antara bandung dan jakarta. dulu saya pikir bandung itu menarik karena itb, sebagai gudangnya penggiat seni indonesia, bahkan dunia, terletak di sana. ternyata setelah menghidupi bandung selama hampir 4 tahun, saya lebih menyukai atmosfer seni jakarta.

saya memang bukan penggiat seni, seni apa pun itu. saya hanya penikmat.

kelebihan dari bandung adalah, udaranya, tentu. walau di siang hari terkena terik matahari sekalipun, malamnya saya dapat tidur dengan tenang, tanpa pendingin ruangan. selain itu, bandung itu kota yang compact. saya katakan seperti itu karena, pusat-pusat keramaian baik itu galeri, gedung bersejarah, bahkan mall, letaknya dekat sekali dengan perumahan, sehingga kata 'macet' di kota bandung, yah, paling hanya mewakili 'terhenti dan/atau tersendat-sendat di jalan selama tidak lebih dari satu jam.' dari rumah kos saya, dengan membawa kendaraan bermotor, tidak memakan waktu lebih dari setengah jam untuk mencapai selasar sunaryo di dago pakar maupun galeri soemardja di itb. untuk mencapai galeri institut français indonesia, yah, paling-paling hanya menambah waktu lima belas menit.

sementara di jakarta, dari rumah saya menuju taman ismail marzuki, bisa memakan waktu lebih dari satu jam perjalanan. itu kalau beruntung. malam minggu? jangan harap sampai dalam waktu satu setengah jam, kalau tidak menggunakan kendaraan bermotor roda dua. waktu bisa habis di jalan, ditambah dengan udara kota yang membuat para pemakai jalan memiliki tingkat emosi yang tinggi.

tapi, coba ditelaah.

saya sangat menyukai tata kota jakarta, jika kita mengesampingkan perumahan kumuh, yang saya sendiri tidak tahu bagaimana penanganannya serta siapa yang mau dipersalahkan soal itu. secara garis besar, jakarta itu indah.

ambil waktu sejenak. bayangkan anda menaiki mobil vw kodok versi lama tanpa pemutar radio di dalamnya, berkeliling kota jakarta, di kala, bayangkan, kota jakarta sedang tidak mengalami kemacetan. rasakan udara yang masuk melalui jendela mobil yang terbuka lantaran air conditioner yang sengaja dimatikan. anda berkendara melewati monas, istana negara, berputar dan singgah sebentar di galeri nasional, lanjut menikmati berbagai suguhan kesenian di taman ismail marzuki, dan menutup malam dengan makan satu scoop es krim ragusa. that's what a perfect life is all about.

saya tahu ini bukan kota jakarta,
tapi foto ini mewakili feel-nya

sayang jakarta tak seperti itu. kota metropolitan ini terlalu berat bebannya, jika ia selalu menjadi pusat segala-galanya. pusat pemerintahan? jakarta. pusat pembangunan? jakarta. pusat perusahaan swasta yang memiliki site pertambangan/perminyakan di seluruh indonesia? jakarta. tidakkah kau lelah, jakartaku?

ah, seandainya bandung seperti jakarta. memiliki satu gedung pusat kesenian yang dipenuhi oleh penggiat seni dari mana saja. berkumpul semua, jadi satu. dari yang gratis, hingga yang berbayar hingga seorang saya tak mampu membayarnya. seandainya bandung memiliki suatu tempat, layaknya galeri nasional, di mana hasil kurasinya merupakan gabungan dari berbagai seniman, semua campur jadi satu, bukan hanya spesifik memamerkan karya dari seorang penggiat seni. bukannya tidak senang, hanya, seperti banana split, saya ingin menikmati banyak rasa dalam sekali cidukan. hangatnya pisang bercampur dengan es krim coklat, vanila, kacang, serta saus cokelat. mungkin saya hanya bosan dengan satu cup es krim cokelat, walau merknya 'häagen-dazs.'

mungkin..

yaa.. mungkin juga karena saya kadang merasa malu untuk bertandang ke selasar sunaryo.. malu karena, itu bukan 'tempat saya?' setidaknya saya dapat menyembunyikan 'ketidak-pahaman-dan-kesekedar-penikmatan' saya di ruangan yang besar. tidak compact.

sebuah karya duto hardono, dalam manifesto 2010, yang saya lewatkan.
semoga dapat menghadiri manifesto tahun ini.
galeri nasional, 26 april - 15 mei 2012.

ditulis secara sok tahu, ketika sedang merindukan taman ismail marzuki dan galeri nasional

ini lucu....

setiap kali guru siap untuk
melakukan ibadat malam, kucing
asrama mengeongngeong, sehingga
mengganggu orang yang sedang
berdoa. maka ia menyuruh supaya
kucing itu diikat selama ibadat
malam.


lama sesudah guru meninggal,
kucing itu masih tetap diikat selama
ibadat malam. dan setelah kucing itu
mati, dibawalah kucing baru ke
asrama, untuk dapat diikat
sebagaimana biasa terjadi selama
ibadat malam.


berabad-abad kemudian kitab-kitab
tafsir penuh dengan tulisan ilmiah
murid-murid sang guru, mengenai
peranan penting seeok kucing
dalam ibadat yang diatur
sebagaimana mestinya.


kucing sang guru
oleh anthony de mello sj, dalam buku 'burung berkicau'

18 Maret 2012

plus ça change, plus ça ne change pas

"semakin banyak perubahan, semakin banyak hal yang tidak akan pernah berubah."

begitu kata (alm.) (oma) marianne katoppo ketika ia ditanyai pendapatnya mengenai penulis-penulis wanita kontroversial macam ayu utami dan djenar maesa ayu. ya, si oma juga pernah mengalami masanya.


raumanen merupakan buah karya marianne katoppo yang pertama kali dicetak pada tahun 1977. mengambil setting kota jakarta pada tahun 60an, raumanen bercerita tentang cinta terlarang antara dua manusia dengan kesukuan yang berbeda. raumanen si minahasa, dan monang si batak. cerita yang terkesan 'biasa' ini diramu sedimikian rupa sehingga membuat pembacanya terhenyak, ketika aliran sungai tak lagi tenang. dan lagi, masalah kesukuan pada era itu memang merupakan masalah yang cukup sensitif, mengingat mudanya umur bangsa ini ketika itu, sehingga kebhinekaan belum seperti sekarang.

oh ya, buku ini juga mengambil sedikit setting di kampus saya. hehe.

novel yang peraih kemenangan dalam sayembara penulisan novel DKJ tahun 1975 (naskahnya selesai pada 1974) juga dianugerahi SEA write award 1982. dengan bangga dapat saya katakan bahwa, beliau merupakan wanita pertama yang dapat meraih pengargaan ini. salut, oma :)

terimakasih kuucapkan kepada ratih amandhita atas pinjaman bukunya.

17 Maret 2012

Antara Jembatan, Rangga, dan Bingkisan Rindu untuk Kekasih

Kabut yang likat dan kabut yang pupur
Lekat dan gerimis pada tiang-tiang jembatan

Matahari menggeliat dan kembali gugur
Tak lagi di langit berpusing di pedih lautan

Kartu Pos Bergambar Jembatan Golden Gate di San Fransisco,
Sapardi Djoko Damono

Begitulah larik-larik puisi yang mengembalikan saya kepada sebuah ingatan masa lalu. Terduduk di kelas bercat hijau tua dan muda. Ditemani cahaya mentari yang menyusup lewat celah-celah sempit kain gorden yang juga berwarna hijau, sehingga seluruh kelas memiliki suasana yang sama: hijau dan hijau.

Di depan papan tulis, seorang guru berjilbab merah terang dengan permainan motif yang sangat tinggi melantunkan sebuah musikalisasi dari salah satu puisi favoritnya. “Golden Gates!” katanya. Dengan semangat, di mana hanya semangat ’45 yang dapat mengalahkannya, sang guru mengetuk-ngetuk papan tulis berwarna putih di muka kelas dengan sebuah penggaris kayu sepanjang 1 meter, dengan tempo 3/4, sembari bernyanyi. Seluruh kelas tertawa terbahak-bahak dan lantas bertepuk tangan pada setiap akhir larik. Ada yang tertawa karena gembira, ada pula yang sekedar menertawakan perilaku seorang guru yang umurnya tak lagi muda.

Tak hanya bernyanyi, murid-muridnya pun diajak untuk ikut bersenandung, walau hanya kata “jembataaaaan” dan “lautaaaaaan,” yang dapat dilantunkan dengan sempurna oleh seisi kelas. Bahkan ada seorang murid teladan yang ditunjuk untuk maju ke depan kelas dan memberikan aksen tertentu pada kata dua kata tersebut yang membuat kelas yang tadinya berwarna hijau suram menjadi cerah ceria. Ya, guru Bahasa Indonesia saya telah memberi suatu nilai kenangan dalam larik-larik puisi, yang bahkan pada saat itu, kami tidak pernah tahu, siapa sebenarnya pengarang dan apa judul asli dari puisi yang selalu disebut sebagai “Golden Gates” oleh sang guru.

Berbicara tentang makna puisi, layaknya tak menjadi suatu hal yang sempit. Makna puisi untuk saya dan Anda, tentu dapat berbeda. Apa yang saya rasakan ketika saya membaca sebuah puisi, belum tentu sama dengan apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh sang penulis. Seperti puisi SDD di atas. Ketika saya membaca dan mendengarkan puisi tersebut melalui kaset tua memori masa SMA saya, yang pertama kali saya bayangkan bukanlah keindahan Jembatan Golden Gates yang ditorehkan oleh SDD lewat kata, melainkan kelas Bahasa Indonesia saya di masa SMA, yang dipimpin oleh seorang guru, yang baru kini saya sadari, memiliki selera akan sastra yang tinggi. Bahkan beliau dapat mengkomunikasikan kecintaannya terhadap sastra lewat sebuah ramuan musikalisasi karyanya sendiri, sehingga kami, bahkan murid-murid yang tidak mengerti apa itu “karya sastra” sekalipun, dapat merasakan bagaimana sebuah karya sastra dapat menjadi sebuah percikan kenangan, yang membuat bibir tak kuasa menahan sunggingan senyum.

Pernah saya utarakan di kelas Apresiasi Sastra, yang kini sedang saya jalani di semester kedelapan perkuliahan, bahwa puisi adalah sebuah bentuk dokumentasi. Saya katakan dokumentasi karena puisi dapat merekam suatu pengalaman dari penulisnya dengan singkat, padat, dan indah. Tidak seperti yang saya lakukan sekarang, seorang penulis puisi dapat menorehkan sebuah kenangan tanpa perlu mengucap terlalu banyak kata yang nantinya malah berpotensi untuk merusak imajinasi pembacanya. Dapat dilihat bahwa puisi SDD di atas tidak secara gamblang menjelaskan bentuk fisik dari Golden Gates di San Fransisco. Beliau juga tidak menggambarkan situasi dan seluruh kegiatan yang terjadi di sana. Larik-larik dalam puisinya hanya mengambil suatu momen, di mana beliau menyaksikan suasana gerimis di tepi jembatan, yang diperindah oleh terbenamnya sang surya. Sederhana, memikat, dan tentunya, membuat setiap orang, yang baru membaca dan mencoba memaknainya, seperti saya sekarang, dapat berimajinasi setinggi mungkin tentang apa saja yang dapat terjadi di jembatan tersebut. Kembali lagi, ini masih merupakan pandangan saya, yang bisa berbeda dengan pandangan Anda.

Sebuah puisi, layaknya memiliki pesan. Pesan termudah? Pesan cinta. Entah dari mana dan sejak kapan stereotip ini berkembang, namun ketika saya iseng mengetik kata “puisi” pada sebuah mesin pencari di internet, halaman-halaman pertama yang ditampilkan selalu tentang “puisi cinta.” Ada apa sebenarnya dengan puisi cinta?

Rupanya pencarian ini lagi-lagi berbuah suatu kenangan, jauh ke masa SD, di mana pada saat itu, film “Ada Apa dengan Cinta?” tengah menjadi tren di kalangan remaja, bahkan calon remaja, seperti saya pada saat itu. Mendadak sastra menjadi suatu hal yang “keren.” Buku “Aku” dicetak ulang dan menjadi best seller di toko-toko buku. Bahkan pada saat itu, saya yang masih duduk di bangku SD hampir membeli buku tersebut, kalau tidak dilarang oleh seseorang yang memang hendak membelikan buku apa saja yang saya minta, sebagai hadiah ulang tahun saya. “Kamu masih terlalu kecil,” katanya. “Cari buku yang lain saja. Nanti malah nggak kebaca.”

Satu larik puisi dari seorang “Rangga,” yang mungkin merupakan sebuah lirik lagu gubahan Melly Goeslaw, selalu melekat, dan tanpa sadar terputar dari tumpukan kaset masa lalu yang tersimpan secara amburadul di otak.

Bosan aku dengan penat dan enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga jika ku sendiri

Dahulu berkali-kali saya membaca ulang larik dari puisi tersebut, namun saya tak kunjung mengerti, mengapa kata-kata yang terkandung di sana terlampau jauh berbeda dengan lirik lagu yang biasa saya dengarkan pada masa itu. Makna dari kata-kata di atas baru saya resapi ketika saya telah duduk di bangku kuliah, dan berkesempatan untuk menonton ulang film tersebut. Ternyata makna dari kata-kata tersebut baru dapat saya resapi ketika saya merasa bahwa, saya sempat berada pada posisi yang mirip dengan “Rangga,” walau dengan rincian yang berbeda. Ucapan selamat saya tujukan kepada Nicholas Saputra, atas aktingnya yang berhasil membuat saya memberi predikat “ganteng” pada dirinya.

Di sisi lain kehidupan saya, puisi memberi sebuah makna kebanggaan. Kebanggaan ketika karya puisi pertama saya yang berjudul “Ciliwung” semasa SD diberi kometar “bagus” oleh guru Bahasa Indonesia saya saat itu, walau kini puisi itu hilang, entah ke mana. Kebanggaan ketika saya dan teman-teman saya berhasil memenangkan lomba musikalisasi puisi dengan memberi sentuhan nada minor pada sebuah puisi karya Sugito yang berjudul “Sebingkis Rindu untuk Kekasih.” Kebanggaan, yang membuat saya ingin terus dan terus berkarya, meski hanya lewat kata, yang kadang malah tampak nirmana.

Untuk mengakhiri esai ini, ada baiknya jika saya melengkapinya dengan sebuah puisi, tentang bagaimana saya memaknai sebuah puisi. Bagai seorang Rangga yang membingkis rindunya pada Cinta di tepi Golden Gates, San Francisco. Mungkin seperti itulah, puisi saya ini.








Cogito, ergo sum
I think, there for I am
Aku berpikir, maka aku ada

Bagaimana dengan menulis?
Adakah aku, ketika aku menulis?

Tergantung

Aku ada
Ketika kau juga ada
Bersamaku

Makna Puisi, dalam Sebuah Puisi,
Gabriella Alodia


ditulis sebagai tugas akhir mata kuliah apresiasi sastra, institut teknologi bandung, 2012

16 Maret 2012

sekaleng nescafe original dingin..

bagaikan sebutir NZT bagi saya........................................


tugas? TA? ide?
for me, they're just a can of nescafe away...
#bukanpromosi

10 Maret 2012

prayer


"one thing I know for sure. this season made you stronger and more mature."
(kirk franklin)

06 Maret 2012

GEMAS: Geodesi Masuk Sekolah 2012.

sekilas tentang gemas

GEMAS: Geodesi Masuk Sekolah. sebuah pengabdian masyarakat, buah karya mahasiswa teknik geodesi dan geomatika institut teknologi bandung yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Geodesi, atau yang lebih dikenal sebagai IMG.

merupakan gagasan yang muncul dari mahasiswa teknik geodesi dan geomatika angkatan 2009 pada saat mereka mengalami Proses Penerimaan Anggota Baru, atau yang lebih dikenal sebagai PPAB. GEMAS pertama berlangsung pada tahun 2010, berlokasi di SD Pesanggrahan. kini, sebagai salah satu program kerja BPH IMG 2011/2012, GEMAS mencoba mengangkat sebuah isu mengenai wajib belajar sembilan tahun.


"kalau sudah sembilan tahun belajar, lalu ke mana?"


atas dasar pertanyaan itulah, sasaran gemas 2012 bukan lagi siswa SD, melainkan SMP. dengan berbagai pertimbangan, dipilih SMP PGRI Dago Pakar sebagai lokasi. sekolah ini dipilih atas dasar timpangnya kondisi sekolah dengan kawasan sekitar, yang penuh dengan rumah makan dan tempat tinggal elit. sekolah tersebut hanya memiliki empat ruang kelas, satu ruang perpustakaan, dan satu ruang guru. sekolah tersebut tidak memiliki lapangan. tempat bermain mereka adalah kawasan sekitar, lapangan SD yang bersebelahan, serta terntunya, perpustakaan mereka sendiri. tidak hanya secara fisik, perbandingan antara jumlah murid dan guru cukup jauh, sehingga kelas harus dibagi menjadi kelas pagi dan kelas siang.

"jadi apa yang GEMAS berikan?"

tidak banyak. satu hari yang dibagi dalam 3 sesi. sesi pertama adalah permainan team building, yang mungkin bagi mahasiswa itu merupakan suatu hal yang biasa, namun bagi mereka, sesuatu yang baru. sesi kedua adalah kelas motivasi, di mana siswa dikumpulkan di kelas" yang ada untuk diberikan presentasi terkait membangun masa depan, dan siswa" tersebut diminta menuliskan cita"nya di atas sebuah kertas. sesia ketiga adalah kerja bakti, yang dilakukan bersama-sama dengan anggota IMG.

selain ketiga sesi tersebut, dilakukan juga renovasi perpustakaan, sehingga ruangan tersebut menjadi lebih nyaman dengan buku" yang tertata rapi.

data menunjukkan bahwa 99% dari orang tua siswa SMP tersebut bekerja sebagai buruh/petani. motivasi harus dibangun dari sekarang, agar mereka mau melanjutkan pendidikan, bagaimana pun caranya. karena pendidikan bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk membangun masa depan yang lebih baik.

05 Maret 2012

lose some, get some

bukan orang yang senang berpikir panjang
tapi terus berkhayal

bukan orang yang ambil pusing
tapi selalu ingin tahu

bukan orang yang selalu bahagia
tapi selalu mencari kebahagiaan



tenggelam dalam masa lalu yang coba menggapai sang waktu
akankah ia kembali,
merajut masa depan,
bersamanya?
Template developed by Confluent Forms LLC