17 Maret 2012

Antara Jembatan, Rangga, dan Bingkisan Rindu untuk Kekasih

Kabut yang likat dan kabut yang pupur
Lekat dan gerimis pada tiang-tiang jembatan

Matahari menggeliat dan kembali gugur
Tak lagi di langit berpusing di pedih lautan

Kartu Pos Bergambar Jembatan Golden Gate di San Fransisco,
Sapardi Djoko Damono

Begitulah larik-larik puisi yang mengembalikan saya kepada sebuah ingatan masa lalu. Terduduk di kelas bercat hijau tua dan muda. Ditemani cahaya mentari yang menyusup lewat celah-celah sempit kain gorden yang juga berwarna hijau, sehingga seluruh kelas memiliki suasana yang sama: hijau dan hijau.

Di depan papan tulis, seorang guru berjilbab merah terang dengan permainan motif yang sangat tinggi melantunkan sebuah musikalisasi dari salah satu puisi favoritnya. “Golden Gates!” katanya. Dengan semangat, di mana hanya semangat ’45 yang dapat mengalahkannya, sang guru mengetuk-ngetuk papan tulis berwarna putih di muka kelas dengan sebuah penggaris kayu sepanjang 1 meter, dengan tempo 3/4, sembari bernyanyi. Seluruh kelas tertawa terbahak-bahak dan lantas bertepuk tangan pada setiap akhir larik. Ada yang tertawa karena gembira, ada pula yang sekedar menertawakan perilaku seorang guru yang umurnya tak lagi muda.

Tak hanya bernyanyi, murid-muridnya pun diajak untuk ikut bersenandung, walau hanya kata “jembataaaaan” dan “lautaaaaaan,” yang dapat dilantunkan dengan sempurna oleh seisi kelas. Bahkan ada seorang murid teladan yang ditunjuk untuk maju ke depan kelas dan memberikan aksen tertentu pada kata dua kata tersebut yang membuat kelas yang tadinya berwarna hijau suram menjadi cerah ceria. Ya, guru Bahasa Indonesia saya telah memberi suatu nilai kenangan dalam larik-larik puisi, yang bahkan pada saat itu, kami tidak pernah tahu, siapa sebenarnya pengarang dan apa judul asli dari puisi yang selalu disebut sebagai “Golden Gates” oleh sang guru.

Berbicara tentang makna puisi, layaknya tak menjadi suatu hal yang sempit. Makna puisi untuk saya dan Anda, tentu dapat berbeda. Apa yang saya rasakan ketika saya membaca sebuah puisi, belum tentu sama dengan apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh sang penulis. Seperti puisi SDD di atas. Ketika saya membaca dan mendengarkan puisi tersebut melalui kaset tua memori masa SMA saya, yang pertama kali saya bayangkan bukanlah keindahan Jembatan Golden Gates yang ditorehkan oleh SDD lewat kata, melainkan kelas Bahasa Indonesia saya di masa SMA, yang dipimpin oleh seorang guru, yang baru kini saya sadari, memiliki selera akan sastra yang tinggi. Bahkan beliau dapat mengkomunikasikan kecintaannya terhadap sastra lewat sebuah ramuan musikalisasi karyanya sendiri, sehingga kami, bahkan murid-murid yang tidak mengerti apa itu “karya sastra” sekalipun, dapat merasakan bagaimana sebuah karya sastra dapat menjadi sebuah percikan kenangan, yang membuat bibir tak kuasa menahan sunggingan senyum.

Pernah saya utarakan di kelas Apresiasi Sastra, yang kini sedang saya jalani di semester kedelapan perkuliahan, bahwa puisi adalah sebuah bentuk dokumentasi. Saya katakan dokumentasi karena puisi dapat merekam suatu pengalaman dari penulisnya dengan singkat, padat, dan indah. Tidak seperti yang saya lakukan sekarang, seorang penulis puisi dapat menorehkan sebuah kenangan tanpa perlu mengucap terlalu banyak kata yang nantinya malah berpotensi untuk merusak imajinasi pembacanya. Dapat dilihat bahwa puisi SDD di atas tidak secara gamblang menjelaskan bentuk fisik dari Golden Gates di San Fransisco. Beliau juga tidak menggambarkan situasi dan seluruh kegiatan yang terjadi di sana. Larik-larik dalam puisinya hanya mengambil suatu momen, di mana beliau menyaksikan suasana gerimis di tepi jembatan, yang diperindah oleh terbenamnya sang surya. Sederhana, memikat, dan tentunya, membuat setiap orang, yang baru membaca dan mencoba memaknainya, seperti saya sekarang, dapat berimajinasi setinggi mungkin tentang apa saja yang dapat terjadi di jembatan tersebut. Kembali lagi, ini masih merupakan pandangan saya, yang bisa berbeda dengan pandangan Anda.

Sebuah puisi, layaknya memiliki pesan. Pesan termudah? Pesan cinta. Entah dari mana dan sejak kapan stereotip ini berkembang, namun ketika saya iseng mengetik kata “puisi” pada sebuah mesin pencari di internet, halaman-halaman pertama yang ditampilkan selalu tentang “puisi cinta.” Ada apa sebenarnya dengan puisi cinta?

Rupanya pencarian ini lagi-lagi berbuah suatu kenangan, jauh ke masa SD, di mana pada saat itu, film “Ada Apa dengan Cinta?” tengah menjadi tren di kalangan remaja, bahkan calon remaja, seperti saya pada saat itu. Mendadak sastra menjadi suatu hal yang “keren.” Buku “Aku” dicetak ulang dan menjadi best seller di toko-toko buku. Bahkan pada saat itu, saya yang masih duduk di bangku SD hampir membeli buku tersebut, kalau tidak dilarang oleh seseorang yang memang hendak membelikan buku apa saja yang saya minta, sebagai hadiah ulang tahun saya. “Kamu masih terlalu kecil,” katanya. “Cari buku yang lain saja. Nanti malah nggak kebaca.”

Satu larik puisi dari seorang “Rangga,” yang mungkin merupakan sebuah lirik lagu gubahan Melly Goeslaw, selalu melekat, dan tanpa sadar terputar dari tumpukan kaset masa lalu yang tersimpan secara amburadul di otak.

Bosan aku dengan penat dan enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga jika ku sendiri

Dahulu berkali-kali saya membaca ulang larik dari puisi tersebut, namun saya tak kunjung mengerti, mengapa kata-kata yang terkandung di sana terlampau jauh berbeda dengan lirik lagu yang biasa saya dengarkan pada masa itu. Makna dari kata-kata di atas baru saya resapi ketika saya telah duduk di bangku kuliah, dan berkesempatan untuk menonton ulang film tersebut. Ternyata makna dari kata-kata tersebut baru dapat saya resapi ketika saya merasa bahwa, saya sempat berada pada posisi yang mirip dengan “Rangga,” walau dengan rincian yang berbeda. Ucapan selamat saya tujukan kepada Nicholas Saputra, atas aktingnya yang berhasil membuat saya memberi predikat “ganteng” pada dirinya.

Di sisi lain kehidupan saya, puisi memberi sebuah makna kebanggaan. Kebanggaan ketika karya puisi pertama saya yang berjudul “Ciliwung” semasa SD diberi kometar “bagus” oleh guru Bahasa Indonesia saya saat itu, walau kini puisi itu hilang, entah ke mana. Kebanggaan ketika saya dan teman-teman saya berhasil memenangkan lomba musikalisasi puisi dengan memberi sentuhan nada minor pada sebuah puisi karya Sugito yang berjudul “Sebingkis Rindu untuk Kekasih.” Kebanggaan, yang membuat saya ingin terus dan terus berkarya, meski hanya lewat kata, yang kadang malah tampak nirmana.

Untuk mengakhiri esai ini, ada baiknya jika saya melengkapinya dengan sebuah puisi, tentang bagaimana saya memaknai sebuah puisi. Bagai seorang Rangga yang membingkis rindunya pada Cinta di tepi Golden Gates, San Francisco. Mungkin seperti itulah, puisi saya ini.








Cogito, ergo sum
I think, there for I am
Aku berpikir, maka aku ada

Bagaimana dengan menulis?
Adakah aku, ketika aku menulis?

Tergantung

Aku ada
Ketika kau juga ada
Bersamaku

Makna Puisi, dalam Sebuah Puisi,
Gabriella Alodia


ditulis sebagai tugas akhir mata kuliah apresiasi sastra, institut teknologi bandung, 2012

2 komentar:

Template developed by Confluent Forms LLC