19 Maret 2012

seandainya bandung seperti jakarta,

atau jakarta seperti bandung..

tidak banyak kota di indonesia yang pernah saya kunjungi. di sumatera, saya pernah mengecap kota padang, bukittinggi, jambi, dan dua desa di lampung. di jawa, saya pernah mengecap jakarta, depok, bandung, bogor, jogja, demak, surabaya, dan blitar. kalau bali, ya, saya pernah ke beberapa kota di sebelah selatan, tengah, dan utaranya. itu sudah, jika 'mengecap' diartikan sebagai 'pernah setidaknya tidur sehari dua hari di sana.'

dari seluruh kota tersebut, hanya jakarta dan bandung yang pernah saya kecap lebih lama. oke, mari kita keluarkan depok karena hingga sekarang saya tidak pernah merasa menjadi 'orang depok' lantaran domisili yang saya kenal dengan nama 'cinere' itu sudah tiga kali berganti nama, dari 'bogor,' 'jakarta selatan,' hingga sekarang, 'depok.'

kembali ke jakarta dan bandung, dua kota ini memiliki atmosfer yang, menurut saya, cukup berbeda.

jakarta yang panasnya selalu bikin emosi di siang bolong, berbanding terbalik dengan bandung yang, bahkan di siang hari, rasanya tidak terlalu panas. malamnya? bandung serasa menggigit.

atmosfer seni juga berbeda antara bandung dan jakarta. dulu saya pikir bandung itu menarik karena itb, sebagai gudangnya penggiat seni indonesia, bahkan dunia, terletak di sana. ternyata setelah menghidupi bandung selama hampir 4 tahun, saya lebih menyukai atmosfer seni jakarta.

saya memang bukan penggiat seni, seni apa pun itu. saya hanya penikmat.

kelebihan dari bandung adalah, udaranya, tentu. walau di siang hari terkena terik matahari sekalipun, malamnya saya dapat tidur dengan tenang, tanpa pendingin ruangan. selain itu, bandung itu kota yang compact. saya katakan seperti itu karena, pusat-pusat keramaian baik itu galeri, gedung bersejarah, bahkan mall, letaknya dekat sekali dengan perumahan, sehingga kata 'macet' di kota bandung, yah, paling hanya mewakili 'terhenti dan/atau tersendat-sendat di jalan selama tidak lebih dari satu jam.' dari rumah kos saya, dengan membawa kendaraan bermotor, tidak memakan waktu lebih dari setengah jam untuk mencapai selasar sunaryo di dago pakar maupun galeri soemardja di itb. untuk mencapai galeri institut français indonesia, yah, paling-paling hanya menambah waktu lima belas menit.

sementara di jakarta, dari rumah saya menuju taman ismail marzuki, bisa memakan waktu lebih dari satu jam perjalanan. itu kalau beruntung. malam minggu? jangan harap sampai dalam waktu satu setengah jam, kalau tidak menggunakan kendaraan bermotor roda dua. waktu bisa habis di jalan, ditambah dengan udara kota yang membuat para pemakai jalan memiliki tingkat emosi yang tinggi.

tapi, coba ditelaah.

saya sangat menyukai tata kota jakarta, jika kita mengesampingkan perumahan kumuh, yang saya sendiri tidak tahu bagaimana penanganannya serta siapa yang mau dipersalahkan soal itu. secara garis besar, jakarta itu indah.

ambil waktu sejenak. bayangkan anda menaiki mobil vw kodok versi lama tanpa pemutar radio di dalamnya, berkeliling kota jakarta, di kala, bayangkan, kota jakarta sedang tidak mengalami kemacetan. rasakan udara yang masuk melalui jendela mobil yang terbuka lantaran air conditioner yang sengaja dimatikan. anda berkendara melewati monas, istana negara, berputar dan singgah sebentar di galeri nasional, lanjut menikmati berbagai suguhan kesenian di taman ismail marzuki, dan menutup malam dengan makan satu scoop es krim ragusa. that's what a perfect life is all about.

saya tahu ini bukan kota jakarta,
tapi foto ini mewakili feel-nya

sayang jakarta tak seperti itu. kota metropolitan ini terlalu berat bebannya, jika ia selalu menjadi pusat segala-galanya. pusat pemerintahan? jakarta. pusat pembangunan? jakarta. pusat perusahaan swasta yang memiliki site pertambangan/perminyakan di seluruh indonesia? jakarta. tidakkah kau lelah, jakartaku?

ah, seandainya bandung seperti jakarta. memiliki satu gedung pusat kesenian yang dipenuhi oleh penggiat seni dari mana saja. berkumpul semua, jadi satu. dari yang gratis, hingga yang berbayar hingga seorang saya tak mampu membayarnya. seandainya bandung memiliki suatu tempat, layaknya galeri nasional, di mana hasil kurasinya merupakan gabungan dari berbagai seniman, semua campur jadi satu, bukan hanya spesifik memamerkan karya dari seorang penggiat seni. bukannya tidak senang, hanya, seperti banana split, saya ingin menikmati banyak rasa dalam sekali cidukan. hangatnya pisang bercampur dengan es krim coklat, vanila, kacang, serta saus cokelat. mungkin saya hanya bosan dengan satu cup es krim cokelat, walau merknya 'häagen-dazs.'

mungkin..

yaa.. mungkin juga karena saya kadang merasa malu untuk bertandang ke selasar sunaryo.. malu karena, itu bukan 'tempat saya?' setidaknya saya dapat menyembunyikan 'ketidak-pahaman-dan-kesekedar-penikmatan' saya di ruangan yang besar. tidak compact.

sebuah karya duto hardono, dalam manifesto 2010, yang saya lewatkan.
semoga dapat menghadiri manifesto tahun ini.
galeri nasional, 26 april - 15 mei 2012.

ditulis secara sok tahu, ketika sedang merindukan taman ismail marzuki dan galeri nasional

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Template developed by Confluent Forms LLC