27 April 2012

Rangkuman Mata Kuliah Perekayasaan dan Pembangunan Wilayah Pesisir

1. PEMETAAN BERBASIS GEO-DEMOGRAFI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, geografi merupakan ilmu tentang permukaan bumi, iklim, penduduk, flora, fauna, serta hasil yang diperoleh dari bumi, sementara demografi merupakan ilmu tentang susunan, jumlah, dan perkembangan penduduk. Dari kedua definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa pemetaan berbasis geo-demografi merupakan pemetaan yang tidak hanya mempertimbangkan nilai ukuran yang bersifat kebumian, tapi juga yang bersifat kependudukan. Contohnya, dalam pemetaan tanpa basis demografi, nilai-nilai yang dibutuhkan dalam pemetaan hanyalah nilai-nilai koordinat yang didapatkan dari pengukuran di lapangan, sementara dalam pemetaan berbasis geo-demografi, dibutuhkan pula nilai-nilai yang bersifat kependudukan seperti jumlah penduduk secara umum, jumlah angkatan kerja, jumlah usia sekolah, dsb yang juga didapat dari survei di lapangan. Pemetaan berbasis geo-demografi ini secara umum bertujuan untuk mengetahui perbandingan jumlah lahan dengan jumlah penduduk yang menempati lahan tersebut.
Seperti yang kita ketahui, tanah merupakan sumber daya dengan jumlah tetap, sementara penduduk terus mengalami perubahan jumlah. Dengan pemetaan berbasis geo-demografi, salah satunya dapat diketahui rasio lahan dengan jumlah penduduk yang menempatinya untuk menganalisis kelayakan lahan tersebut dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan jika terdapat data proyeksi pertumbuhan penduduk di wilayah tersebut.
Beberapa aplikasi dari pemetaan berbasis geo-demografi ini antara lain adalah Peta Rasio Lahan Sawah dan Jumlah Petani, Peta Rasio Lahan Penangkapan Ikan dan Jumlah Nelayan, Peta Rasio Fasilitas Pendidikan dan Usia Sekolah, serta peta-peta rasio lahan lainnya.

2. RASIO LAHAN

Menurut Dr. Dwi Wisayantono, rasio lahan merupakan nilai perbandingan antara entitas lahan (fungsi, luas, produktivitas) dengan entitas manusia (jumlah, pertumbuhan, struktur). Contohnya, dalam suatu daerah persawahan, setiap petani memiliki luas lahan 300 m2, berarti rasio lahan dalam daerah tersebut adalah 300 m2/petani. Secara umum, rasio lahan ini dapat dianggap sebagai tolak ukur kemakmuran dari suatu daerah, karena lahan/tanah sendiri merupakan sumber daya yang berjumlah tetap dan memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Nilai ekonomi tanah ini dikatakan sangat tinggi karena berbagai peristiwa ekonomi dapat terjadi pada suatu bidang tanah, seperti kegiatan bercocok tanam, pendirian pemukiman warga, pendirian bangunan-bangunan komersil, pendirian fasilitas pendidikan, hingga pendirian fasilitas umum seperti jalan, rumah sakit.
Pada pembahasan sebelumnya, telah diberikan beberapa aplikasi pemetaan berbasis geo-demografi yang memanfaatkan rasio lahan sebagai metode kuantifikasinya. Metode ini digunakan karena pengaplikasiannya yang cukup mudah serta dapat dilakukan proyeksi untuk beberapa tahun ke depan dengan adanya data pertumbuhan penduduk per-periode waktu tertentu. Dengan mengetahui proyeksi rasio lahan pada suatu daerah dalam jangka waktu tertentu, dapat dibuat kebijakan-kebijakan untuk mempertahankan kemakmuran daerah tersebut, baik dengan mempertahankan jumlah rasio lahan maupun pengambilan tindakan-tindakan yang melibatkan daerah lain untuk keberlangsungan hidup penduduk daerah yang bersangkutan.

3. OPTIMISASI PENENTUAN LUAS LAHAN

Menurut Beveridge dan Schechter (1970), optimisasi adalah metode untuk mencari hasil atau nilai terbaik suatu tujuan berdasarkan kendala atau batasan variabel sumber daya yang digunakan. Struktur metode optimisasi ini dibangun oleh dua fungsi, yaitu fungsi tujuan dan fungsi kendala. Optimisasi penentuan luas lahan berkaitan dengan optimisasi spasial, di mana struktur fungsi tujuan dan kendalanya terikat oleh variabel yang memiliki kedudukan spasial tertentu.
Dalam optimisasi penentuan luas lahan, dibutuhkan variabel-variabel tertentu yang bersifat mengikat kebijakan alokasi lahan. Artinya, sebelum melakukan optimisasi, kebutuhan dari variabel-variabel tersebut harus terlebih dahulu dipenuhi. Contohnya, dalam suatu luasan bidang tanah, terdapat tiga jenis usaha dengan jumlah lahan minimal masing-masing. Optimisasi lahan baru dapat dilakukan ketika jumlah lahan minimal masing-masing usaha tersebut telah terpenuhi. Optimisasi sendiri dilakukan dengan tujuan untuk mencari alokasi lahan untuk nilai ekonomi yang paling baik, seperti yang telah didefinisikan oleh Beveridge dan Schechter sebelumnya.
Jika optimisasi lahan secara internal tidak dapat dilakukan akibat kurangnya jumlah lahan, dibutuhkan kebijakan dari pemerintah daerah setempat untuk memenuhi kekurangan lahan tersebut, baik dengan cara menyediakan barang pengganti, penambahan jumlah produksi per-luasan lahan, maupun impor dari daerah lain.

4. SARAN

Mata kuliah Perekayasaan dan Pembangunan Wilayah Pesisir merupakan salah satu mata kuliah yang menurut saya tidak hanya memberi bekal teori, tapi juga memperluas wawasan. Untuk perkuliahan selanjutnya, saya menyarankan untuk memperbanyak studi kasus serta diadakan semacam simulasi pemilihan pemerintah daerah dengan konsep pemetaan berbasiskan geo-demografi untuk membawa aura dunia nyata ke dalam kelas, sehingga apa yang dikerjakan dalam latihan-latihan di kelas tidak hanya menginspirasi, tapi kelak dapat dilakukan di masa depan.

REFERENSI
Pusat Bahasa Departemen Pendudukan Nasional Republik Indonesia. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Wisayantono, D. (2011). Slide Mata Kuliah Perekayasaan dan Pembangunan Wilayah Pesisir: Optimisasi Spasial dan Rasio Lahan. Bandung: Institut Teknologi Bandung.
Wisayantono, D. (2012). Slide Mata Kuliah Perekayasaan dan Pembangunan Wilayah Pesisir: Mengukur Rasio Lahan. Bandung: Institut Teknologi Bandung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Template developed by Confluent Forms LLC