04 September 2012

sekilas tentang pemutaran Mata Tertutup di IFI Bandung

kemarin gw nonton suatu film karya garin nugroho yang berjudul Mata Tertutup (MT) di auditorium IFI bandung. gw sendiri pengen nonton film ini gara” ini merupakan salah satu film indonesia yang dianggap ‘oke’ oleh salah satu majalah, gw lupa majalah apa. tercatatlah film tersebut sebagai salah satu film yang patut gw cari, bersanding dengan Postcards from The Zoo, Lovely Man, dan Sanubari Jakarta. hasilnya? belom ada yang gw temukan sampai sekarang -___-

makanya, seneng banget pas tau MT diputer di IFI! datang bersama dias yang merupakan kawan seperhipsteran gw #halah! kami pun menyaksikan film yang ternyata mengangkat isu radikalisme suatu agama, yang di situ terfokus pada Negara Islam Indonesia (NII) dan aksi terorisme. 

poster versi yang gw temukan

yang menarik dari film ini, menurut gw, adalah bagaimana seorang garin nugroho lagi” mengangkat kehidupan sosial masyarakat indonesia yang mungkin bagi kita” rakyat Indonesia ya itu biasa aja, tapi ketika dibawa ke luar (festival mungkin?) akan menjadi hal yang menarik. salah satunya adalah suasana di bus kota yang selalu riuh rendah, dengan keberadaan berbagai macam pedagang asongan alat” yang ‘ajaib’ seperti racun tikus super, dsb. serta berbagai pengamen. keduanya seakan bergantian menghibur seisi bus yang entah sedang menempuh perjalanan jauh, maupun sedang menuju/pulang dari kantor masing”. juga bagaimana bahasa daerah tetap dipraktikkan dalam kehidupan kita sehari-hari dengan kerabat yang masih sama” mengerti bahasa daerah tersebut, selain menggunakan bahasa persatuan kita, bahasa indonesia, hehe.

hal menarik lainnya adalah bagaimana kisah orang” yang ‘terjebak’ dalam gerakan radikal ini tidak berfokus pada gerakannya, tapi lebih kepada bagaimana orang tua dari orang” tersebut bereaksi terhadap anaknya yang ‘hilang.’ di sini dikisahkan tiga tokoh: jubir, aini, dan rima.

jubir merupakan anak pesantren yang ingin membahagiakan ibunya. ibunya ini (sepertinya) terus menerus disiksa oleh suaminya. jubir sendiri sering dikata-katai oleh ayahnya itu, dianggap tidak berguna dan menghabiskan uang saja. jubir akhirnya bertemu dengan seseorang yang menariknya untuk mengikuti aksi terorisme.

kalau aini, dia datang dari keluarga yang berada. ibunya memiliki usaha jahit-menjahit, namun tiba” aini hilang membawa sejumlah uang. tidak tanggung”, hilangnya sampai tiga bulan. ibunya setengah mati mencari hingga ke dosen, teman” aini, menempel poster, serta membagi-bagikan poster itu ke (hampir) semua orang yang dijumpainya. oleh berbagai informasi yang ia dapatkan, diduga bahwa aini telah bergabung dalam NII, sementara sang ibu sendiri tidak tahu menahu, apa itu NII.

terakhir adalah rima. rima ini tipikal superwoman deh. dia sangat kritis dan mau berbuat demi idealismenya. dengan segala kekritisannya, ia bergabung secara sadar dengan NII. ketangkasan dan kecakapannya dalam pengabdiannya di NII membuatnya sukses mengumpulkan sejumlah uang dari orang” baru yang ikut bergabung dalam NII atas ajakannya. pada akhir cerita, sesuai dugaan gw, rima mengalami kekecewaan besar terhadap NII akibat tidak dihargainya dia dan beberapa orang yang ia jumpai di NII akibat jenis kelaminnya.

dalam diskusi yang diadakan seusai pemutaran, tanpa diduga diskusi malah lebih mengarah ke isi film tersebut, bukan mengenai film tersebut. katakanlah, malah membahas ‘kesesatan’ beberapa sekte, dibanding membedah apa yang hendak disampaikan oleh film tersebut. malah dalam diskusi tampil beberapa orang yang menjadi saksi mata NII, baik ‘mantan calon anggota’ maupun seorang mantan perwira yang umurnya sudah 70an tahun ke atas. sempat diskusi terpotong oleh seseorang yang merasa agamanya dihina oleh film ini, sehingga ia ingin meminta penjelasan dari para pembuat filmnya melewati sang moderator.

dalam suasana (yang cukup) panas tersebut, ada seorang pembicara yang menyebut dirinya ‘perwakilan kaum kafir’ menjelaskan bahwa radikalisme agama tidak hanya terjadi pada agama yang diangkat dalam film MT saja. dalam agamanya pun juga ada berbagai sekte yang menganggap diri mereka ‘benar’ dan orang yang terhina tadi pun terlihat lega atas wawasan yang telah diberikan oleh pembicara tadi.

diskusi tersebut berlangsung cukup seru, karena gw sendiri mendapatkan berbagai cerita (rasanya belum pantas gw menyebutnya sebagai fakta) yang sebelum masuk ke ruangan auditorium IFI, belum gw ketahui. namun persepsi gw terhadap film MT sendiri sebenarnya simple:

put yourself in your parents’ position. 

ingat bagaimana perasaan ibu jubir, jika ia mengetahui anaknya masuk dalam jaringan terorisme dengan mengatasnamakan ‘pengabdian kepada ibunya, agar kelak di surga mereka dapat bertemu kembali.’ 

ingat pula bagaimana perjuangan ibu aini mencari anaknya, yang di tengah keputus-asaannya, ia berkata ‘tidak ada satu agama pun di dunia ini yang mengajarkan kita untuk tidak menaruh hormat kepada bapak, ibu, maupun anak” kita sendiri.’ 

ingat, bagaimana kedua orang tua rima mendukung penuh segala kegiatan anaknya, yang memang sejak kecil memiliki ketertarikan dalam berorganisasi, hingga ketika anaknya sudah dewasa dan mengikuti NII tanpa sepengetahuan mereka, mereka malah mendukungnya atas keyakinan ‘rima sudah besar, sudah bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk’ dan lantas memberi uang lebih untuk segala kesibukan rima. 

gw memang belum pernah merasakan bagaimana susahnya jadi orang tua. tapi yang jelas, apa pun yang gw lakukan, gw selalu pikirkan terlebih dahulu ‘what would my parents react’ sebelum gw benar” melakukannya. yaaa gimana. lah wong gw bisa jadi segede gini juga gara” beliau” kan, hehe.

ps: dalam film ini ada satu tokoh ‘pencerah’ yang kehadirannya selalu mengundang tawa. dan yup, dia jadi tokoh favorit gw, huahahahahaha.

5 komentar:

  1. eh mau dong geb kalo nemu lovely man sama sanubari jakarta. (terutama sanubari jakarta sih)

    BalasHapus
    Balasan
    1. lo jg ya cooy! susa bet nyarinya coooy!

      Hapus
  2. ngeri banget dah nyang hipster

    BalasHapus

Template developed by Confluent Forms LLC