04 September 2012

the epic, epic of mahabharata, ahee

epik ini benar” epik! #halah!

jadi begini. mahabharata sendiri merupakan sebuah drama yang pertama yang mengisi otak gw. terdapat serpihan” kenangan masa kecil gw tentang epik mahabharata yang dipertunjukkan di teater terbuka dufan, di mana bokap gw terlibat dalam proses produksinya.

berikut kepingan lagu yang gw ingat cukup sering gw nyanyikan pada masa TK gw:

Kanda Kresna, 
haruskah perang digelar? 
Musuh kita, 
sanak famili sendiri 

Apa tega, 
membunuh mereka? 
Ya dewa, 
biar aku yang mati saja 
Hooo..

gw lupa siapa yang menyanyikannya, tapi yang gw ingat saat itu, kresna ditampilkan mentereng. seluruh tubuhnya dibalut warna silver. jadi yang tersisa dari serpihan itu adalah, bahwa kresna ini punya perang penting dalam epik mahabharata.

kepingan lagu kedua yang sering gw nyanyikan adalah:

Kurusetra! 
Kurusetra! 
Arena Bharatayudha! 
… (lupa lirik inget nada) 
… (lupa lirik inget nada) 
di Kurusetra! 

lagu tersebut dinyanyikan oleh paduan suara sebagai latar peperangan barathayudha yang terjadi di gelanggang kurusetra. serpihan” ingatan juga menyisakan dua nama: pandawa dan kurawa, yang kemudian gw ketahui merupakan dua pihak bersaudara (sepupu, sebenarnya) yang bertikai dalam perang bharatayudha.

kian hari kian sering gw diperhadapkan dengan kisah” yang ada sangkut pautnya dengan epik ini. mulai dari teater tempat bokap gw berkarya, teater koma, yang sempat mengambil para pandawa, yang kemudian gw kenal sebagai yudhistira, bima, arjuna, nakula, dan sadewa, sebagai tokoh-tokoh dalam salah satu pertunjukannya. berlanjut dengan beberapa literatur yang mengambil tema mahabharata dan ‘mempelesetkannya’ dengan berbagai cara. ditambah lagi keberadaan punakawan yang (sepertinya) hanya ada dalam kisah mahabharata versi babad tanah jawi. makin penasaran lah gw dengan epik ini.

pembelian buku Mahabharata tulisan C. Rajagopalachari 3 tahun silam masih belum bisa menuntaskan rasa penasaran, karena hingga sekarang, buku itu belum selesai dibaca, akibat kisah” yang terlalu banyak serta bagian depan yang masih cukup monoton. hingga kini pembatas buku masih bertengger di halaman ke-111 dari total 496 halaman.

akhirnya sebuah buku diskonan berharga 5ribu rupiah berjudul Mahabharata for Kids pun cukup menuntaskan rasa penasaran gw terhadap epik ini. diceritakan epik ini secara singkat, dengan tentunya, menyensor beberapa adegan ‘membuat anak’ hehe. ternyata epik ini memang benar” epik! oleh ‘pencerahan’ dari Mahabharata for Kids ini, gw berspekulasi bahwa yang bernyanyi ‘Kanda Kresna’ dalam serpihan ingatan gw itu adalah yudhistira, karena beliau benar” menghindari peperangan dengan mengajukan berbagai jalan damai sebelum akhirnya memutuskan agar perang dimulai.

buku yang belum sempat
gw habiskan

oh ya, keinginan gw membaca Mahabharata for Kids ini juga diawali oleh buku yang gw pinjem dari dias, berjudul Rumah Kopi dan Singa Tertawa. di situ diangkat kisah tentang durna, yang isinya setelah dibandingkan, memang tak jauh beda dengan kisah aslinya. Yusi Avianto Pareanom, penulisnya, mengambil personifikasi durna sebagai ‘orang yang sering disalahpahami.’

inilah tampilan bukunya si dias!

dalam quality time with myself yang gw miliki sekitar dua bulan ke depan, gw masih memiliki waktu untuk membaca Mahabharata versi C. Rajagopalachari. semoga gw bisa menemukan versi babad tanah jawinya juga. yah, sekedar ingin tahu bagaimana para punakawan bisa muncul di tengah kerajaan sebagai para penasihat raja, yang adalah yudhistira itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Template developed by Confluent Forms LLC