27 Juli 2013

salam sayang buat paman dan bibi pemimpin

akhir" ini, atas gangguan bantuan konstan dari media nirkabel, kita sering mendapati berbagai analisa orang" yang, kadang berlatar belakang jurnalistik, kadang tidak, kadang orang biasa, kadang orang terpandang, kadang saksi, kadang mengaku saksi. hehe. tulisan" tersebut membawa kita ke berbagai hal yang katanya dahulu "tertutupi" akibat kekuatan dari sebuah pihak. kita, orang indonesia ini, kedapatan bahan" yang kaitannya ga jauh" dari peristiwa 65, 98, sampai yang lagi dan mungkin akan terus hot, isu sebuah wilayah yang tidak diberi hak menjadi sebuah "negara."

kita, sebagai pembaca awam, mungkin akan berdecak, tersedak, kagum, bahkan terbakar emosinya selesai membaca tulisan" yang umumnya tersebar luas lewat "awan" ini. yang tadinya tidak tahu apa", jadi tahu apa". yang tadinya ga mikir macem", jadi mikir macem". yang tadinya ga ada kerjaan, jadi ada kerjaan: paling tidak, ada yang bisa dikomentarin, yaah, sesekali ngerusakin capslock gapapa laah, hehe.

jenis tulisan pun berkembang, ada yang sifatnya informatif, deskriptif, argumentatif, sampai persuasif. hingga akhirnya pembaca sendiri tidak dapat membedakan, mana yang benar" sebuah liputan, mana yang sekedar "pesanan." buruknya, baik tulisan itu bersifat liputan maupun pesanan, tulisan" tersebut tak luput dari suatu kesimpulan: menuding suatu rezim kepemimpinan, atau kalau penulisnya pengen cari aman dikit, menuding "seseorang," kalau pengen cari aman banget, menuding sekelompok orang yang lokasi geografisnya jauh dari titik lokasi mereka membuat tulisan tersebut.

sebenarnya tidak ada yang salah, sih. toh tulisan itu kan fungsinya untuk mendokumentasikan sesuatu yang tidak abadi, agar generasi mendatang bisa melihat ke belakang, dan belajar dari peristiwa entah baik entah buruk tersebut. tapi kalau ceritanya cuma berujung pada "saya harap pemerintah...," atau "ini semua akibat ulah...," atau malah "hentikan...!," yah.. males banget -___-

kadang saya berpikir, penulis" ini, orang dewasa kan? di antaranya malah, sudah makan asam garam dunia. sudah tahu kalau dunia ini sudah tidak ada salah-benar, yang ada hanya baik-buruk, atau yang bisa dikatakan sebagai "kepentingan." bahkan mungkin, sudah tahu kalau yang namanya memimpin massa itu bukan sesuatu yang mudah. kok ya masih aja bikin tulisan yang ujung"nya 'hanya' menuding paman dan bibi pemimpin yang kantong" uangnya ga seberapa dibandingkan dengan kantong" matanya?

tapi ya, setiap orang kan punya hak. saya menulis seperti ini juga karena saya ingin mengungkapkan pendapat. selama kita masih bisa menulis, ya menulislah. satu hal dari saya untuk paman dan bibi di atas sana, yang bukan surga itu, tetap semangat ya paman! bibi! bagaimana pun, saya kagum dan bangga atas pilihan kalian untuk berjalan, mungkin kadang berlari di antara kami" yang hanya bisa teriak sambil berdiri di tempat, atau bahkan, seperti yang saya lakukan sekarang ini, duduk :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Template developed by Confluent Forms LLC