05 Agustus 2013

mungkin jujur itu adalah bercerita

jadi ceritanya kemarin gw baru ngumpul sama anak" pecinta alam sma gw beserta simpatisan tetap yang tak terpisahkan, hahhaa. buka bareng, rame. pulangnya beberapa dari kami lanjut nongs. cuma... yaah, 6 orang? 7 orang?

ga banyak ngobrol, banyakan nyanyi, hahaha. ngobrol pun ngomongin hal" absurd seperti "tiga cewe indonesia paling wah menurut lo" dan "tiga cowo" bagi yang wanita. terus "lagu indonesia paling personal buat lo" dst. namun yang bikin malam itu spesial #haiah! adalah... suara gitar yang berdenting.. diiringi syair lagu lirik para pujangga #dobelhaiah!

ahahahaa.. bermula dari obrolan mengenai sapardi djoko damono #azek entah siapa yang memulai, kita jadi ngomongin musikalisasi puisi. nyambung ke payung teduh, yang kalo menurut beberapa dari kami, lagu"nya itu lebih ke arah 'musikalisasi' dibanding lagu ini sendiri #yakmulaisotoy

"ararararaa.." yak, dimulai sudah. nyanyi lah kita, resah. somehow, karena ga semua orang tau dan suka payung teduh, gw yang 'datang dari jauh' #gajauhjauhamatnyets jadi merasa 'sangat dekat' ketika tiap bait dapat kami nyanyikan bersama, dengan (mungkin) feel yang sama, walau kadang sambil curi" liat"an kalo ada bait yang kita lupa kata"nya hahahaa. dan semua setuju kalo bagian "aku menunggu dengan sabar" itu 'ngebawa' banget aaaaaa. hati gw pun trenyuh, nyets, this is music maan, this thing gets you high, this thing is DOPE! hhahahaha.

dan "arararara" selalu datang kembali ketika terjadi kekosongan lagu. hahahahaha. RACUN!

giliran gitar gw pegang. berdenting kembali... "ada.. yang tak sempat tergambarkan.." dan kami kembali menjadi tinggi akibat lagu yang kata heri "kebayang kayak dua orang lagi dinner, cuma liat-liatan, bingung mau ngomong apa, aaaa dapet banget feelnya!" yang juga gw tanggapi dengan lebay. oh iya, kingkong bilang lagu resah itu lagunya kuntilanak jatuh cinta, i'll get back on that later, waaay later, hahaha.

semua mengalir, dan ternyata mamin yang paling hafal liriknya. gw yang asal dentang denting selalu ngeliat ke mamin kalo gw bingung, "ini bener kaga si gw main" begitu kira" telepati gw ke si mamin, yang dijawab dengan bait #azek

kembali ke sapardi djoko damono "hatiku selembar daun..." kali ini iis ikutan. sebelumnya dia sempat tertidur, lelah sepertinya. dan mengalir kembali. nyet sumpah you don't need drugs, alcohol, weed, or any other things to get high, you only need a goddamn good music! walau gw sendiri kaga tau 'being high' itu sebenernya gimana rasanya ahahahaak.

last but not least.. gw jadi ingin kembali berkarya.. and those songs, i will definitely play them kalo ada kesempatan manggung dalam rangka 'perkenalan budaya' apa pun itu.. kalau ada.. karena, ga tau ya, entah mengapa gw kadang merasa, kita terlalu 'berusaha' dalam hal 'menjaga tradisi' yang bahkan kita sendiri ga pernah alami.

mudahnya, gw ga pernah merasakan yang namanya upacara adat minang mau pun jawa dari gw kecil. nikahan tante om sodara" gw, se-jawa"nya misalnya, tetep aja 'ga kerasa' kalo kata gw yah (inilah mengapa gw prefer ga menikah dengan adat apa pun nantinya, cukup ornamen aja, bukan inti acara). lalu tiba" gw mesti, contoh ekstremnya, nyinden. ya gw ga dapet feelnya, karena it might be exist in my blood but it's not running.

beda kalau gw membawakan musikalisasi. itu indonesia. yah, sastra indonesia. bukan adat istiadat yang fancy dengan ornamen warna warni sana sini, tapi suatu hal simpel yang bisa 'membawa' penikmatnya hanya bermodalkan, misalnya, gitar jeans dan kaos sederhana. entah mengapa, gw merasa itu indonesia sekali. duduk" di teras, bicara hal apa saja yang tidak penting tapi ga melulu ngomongin orang, bicara idealisme dan realita, semua sambil minum kopi dan cemilan.

kurang indonesia apa?

NB: jadi, ya jujur aja lah.. menurut gw, ga usah terlalu 'maksa' membawa budaya indonesia yang muluk" kalau memang kita ga ada 'di dalamnya.' rasanya beda deh, nonton pagelaran, misalnya, sumatera barat yang emang orang" sumatera barat yang main (makasih mus udah ngajak gw nonton dies-nya unit kesenian minangkabau sekalian jadi translator pribadi!) dengan nonton yang sekedar 'pagelaran budaya' ajah. when you're not in the zone, you're not in the zone bro. bagaimana lo bisa berharap penonton mengerti cerita lo kalau lo sendiri tidak pernah mengalaminya?

buka bersama yang berlanjut jadi sahur bersama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Template developed by Confluent Forms LLC