02 Agustus 2013

the 'before' trilogy

jadi baru saja gw melanjutkan nonton before midnight. agak sulit mencerna yang satu ini, mungkin karena umur gw dan mereka sudah terlalu jauh, karena gw nonton before sunrise dan sunset sendiri di kisaran tahun 2009, waktu masih satu kontrakan sama si bojes/pika, di mana gw masih bisa connect sama apa yang diobrolin kedua tokoh, yang bahkan gw lupa namanya itu, hehe.


ga semua orang suka sama film ini, karena isinya cuma ngobrol. si maya ketiduran, si kak reni "what? that boring movie?" namun, gw suka! banget! yang paling bikin gw suka sama film" ini adalah, they're as real as a movie could be. ya, those things that were pictured in the film, happen, in real life. hehe.

di before sunrise (1995), they were in their early 20s, kedua tokoh bertemu secara random di kereta. masih muda, masih ga ngerti apa". masih membicarakan mimpi, masih hopeless romantic, masih imut", hehe.

di before sunset (2004), they were in their early 30s, mereka bertemu kembali, bener" 9 tahun kemudian, ketika mereka ada di puncak karir. obrolannya mulai realistis, achievements, bahkan menyentuh politik juga, seinget gw.

dan sekarang, di before midnight (2013), they are in their early 40s, juga 9 tahun setelah kejadian 'before sunset,' mereka hidup bersama, tidak menikah tapi punya anak kembar, one of them was divorced, dan obrolannya lebih banyak mengenai keluhan, terutama dari pihak wanita yang selalu merasa "take care of everything" sementara si lelaki selalu disalahkan akibat aktivitas" yang menurutnya "i do it for you, babe."

those things will eventually (and is being) happen, in my life. in our life. so let's just... enjoy the ride, i guess.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Template developed by Confluent Forms LLC