28 Oktober 2013

rekomendasiks: les miserables the movie

kemarin hujan badai seharian. saya jadi ga ke mana". serem, suara anginnya kayak mobil distarter. dari gelap, sampe gelap lagi. jadi saya ga berani ke mana", cuma ngintipin kursi kejungkir sama dedaunan rontok terbang ditiup angin, serta pepohonan yang melambai. dingin? jangan tanya, hahahaha.

bersenjatakan selimut gw menikmati hari minggu kemarin dengan: tidur. bahkan gw ga gereja, saking seremnya :( hahaha asli kemaren serem banget, apalagi pas gelap. jendela kalau hanya ditutup tanpa dikonci bisa terbuka gegara angin ribut ini, hahaha. sempet mikir pengen hunting foto di kala angin bertiup, tapi dari pada kepentok ranting/apa pun yang terbang ketiup angin, mending ngendon di kamar dulu deh hehe.

bosen tidur, bingung mau ngapain. akhirnya nonton. nonton pake niat, sesuatu yang udah lama ga gw lakukan. nonton pake niat ini adalah ritual #halah! gw untuk memberi asupan gizi pada otak dan hati #dobelhalah! serta metode gw untuk menjaga 'selera' #tripelhalah!! jadi, ketika gw punya waktu-sangat-kosong, di mana ga ada kewajiban yang harus secepatnya di selesaikan, gw melaksanakan ritual ini. yang gw lakukan adalah, nonton film yang mesti pake niat, yang ga cuma sekedar lewat, tapi beneran film yang baagguusss.

kemarin akhirnya gw memilih Les Miserables, atau yang biasa disingkat les miz. film ini udah gw tunggu" dari jamannya masih produksi, lantaran gw merupakan seorang yang cinta broadway walau ga pernah nonton secara langsung #yamenurutlooo?! udah penasaran dari lama mengenai les miz, makanya seneng setengah mati saat les miz dibikin film!!

oke, cukup intronya. les miz sendiri merupakan musikal adaptasi dari novel karangan victor hugo, seorang penulis perancis. les miz ini unik, karena judul aslinya 'tidak berhasil' diterjemahkan ke dalam bahasa lain. mungkin karena 'rasa'nya bakal hilang. mengambil setting pada tahun 1800-an, les miz ini bisa gw katakan, lengkap. lengkap dalam segi cerita, karakter, emosi, semuanya deh. mengingatkan gw akan sound of music, tapi sedikit lebih berat dan ga untuk dikonsumsi anak", ya, karena ceritanya ini cukup sulit untuk dicerna.

mengambil karakter utama seorang bekas napi yang kesalahannya adalah 'mencuri roti' bernama Jean Valjean, yang akhirnya 'dibebaskan' setelah 19 tahun menjalankan hukuman. dia ga benar" bebas, karena ia tetap membawa surat keterangan 'berbahaya' seumur hidupnya. hidupnya terangkat ketika ia dibantu oleh seorang monseigneur/pastor di sebuah gereja. ia diberi makan, tempat tidur, namun malam hari setelah dibantu, dia malah mencuri perangkat perak milik sang pastor. Jean Valjean tertangkap oleh penjaga dan mengembalikannya ke gereja karena ia mengaku bahwa perak" tersebut merupakan pemberian sang monseigneur. di luar dugaan, sang monseigneur mengatakan bahwa Jean Valjean tidak berbohong, malah memberikan dua buah candle holder yang dengan pesan "kamu lupa membawa dua hal terbaik dari sini. ambillah. jangan lupa, pergunakan semua perak ini untuk membangun dirimu menjadi orang yang jujur."


Jean Valjean saat menjalani hukuman bersama tahanan lainnya
memasuki periode kehidupan selanjutnya, Jean Valjean mengganti identitasnya dan ia berhasil menjadi mayor dari suatu kota. ia bertemu kembali dengan Javert, inspektur kepolisian berdarah dingin yang masih mencari keberadaannya yang telah dinyatakan 'hilang' setelah masa hukumannya berakhir. melalui berbagai peristiwa, identitas Jean pun akhirnya terkuak dan ia kembali harus menghindar dari kejaran Javert. ia sempat bertemu dengan seorang wanita bernama Fantine (not in a lovey-dovey kind of way), dan kemudian berjanji untuk menjaga anaknya yang bernama Cosette. singkat cerita, ia 'membeli' Cosette dari pamongnya dan mengangkatnya sebagai anak.

tahun-tahun berlalu, periode kehidupan selanjutnya pun datang. generasi Cosette, yang telah memasuki usia pemuda/pelajar berbondong-bondong mengangkat isu revolusi Perancis. gw ga begitu mengerti sejarah revolusi Perancis saat menulis post ini, namun yang gw soroti adalah, di bagian mana pun di dunia ini, pemuda memang selalu menjadi ujung tombak revolusi, atau pun pembaruan. singkat cerita, seorang tokoh baru bernama Marius, yang merupakan bagian dari pemuda-pemuda pejuang revolusi ini, jatuh hati kepada Cosette dan bergulirlah kisah perjuangan para pemuda melawan para tentara di kala itu. film ini ditutup dengan adegan yang membuat saya banjir air mata sampe sesenggukan, dan mengulang detik" terakhir ini sampe beberapa kali.

adegan favorit saya ada dua. pertama, saat Jean Valjean berdoa, dengan menyanyikan "bring him home" untuk Marius, yang telah ia anggap sebagai "a son that i might have known if God had granted me a son." Jean Valjean mengetahui bahwa Cosette telah jatuh hati pada Marius, hatinya teriris sekaligus lapang, mengetahui akan ada yang membawa Cosette pergi dari hidupnya. menyadari bahwa Marius turut serta dalam perjuangan revolusi, Jean Valjean ikut bertempur dalam rangka 'menjaga' Marius, yang ia harap dapat menjaga Cosette ketika ia telah tiada..



adegan favorit kedua adalah, ending-nya. ga akan gw post karena super spoiler dan ga bakal ngerti feeling-nya kalo ga nonton filmnya dari awal.

kesimpulannya, film ini bagus. banget. dan seperti saya bilang tadi, lengkap. bukan sekedar kisah cinta ftv, bahkan kisah cintanya bukan terjadi pada tokoh utama, melainkan tokoh" pendukung. tapi memang, musikal berdurasi 2 jam bukan makanan untuk semua orang. bagi penikmat film action, mukin ini bukan makanan Anda, karena pasti sepanjang film hanya akan protes "apaan sih nyanyi nyanyi melulu" "boooooring" "hoaahhmm" tapi buat penikmat musikal, this film is really worth to watch.

ps: setiap selesai melaksanakan ritual ini dan ternyata filmnya bagus, gw selalu merasa "huaaahhhh! legaaa!" entah kenapa. rasanya lepas banget dan senengg banget, hahaha. perasaan ini gw dapet setelah menonton beberapa film yang menurut gw super-bagus di antaranya: 12 Angry Men, Memento, Shutter Island, dan... Les Miserables.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Template developed by Confluent Forms LLC