16 Agustus 2014

pemodelan arus untuk analisis pergerakan pasir musiman di pulau semak daun, kepulauan seribu


oke! kali ini gw akan sedikit serius, yaitu gw bakal cerita tentang tugas akhir, alias TA, alias skripsi gw #hasek!

keterangan: gw terbiasa menulis kata 'erosi' dibandi 'abrasi,' namun kapan pun gw nulis erosi di sini sebenarnya itu adalah 'abrasi' hehe.

jadi ceritanya adalah, kepulauan seribu ini kan memiliki sekitar 101 pulau (iya, ga sampe seribu heheh), nah karena pulaunya ini kecil-kecil banget alias sehari diputerin beres, peneliti dari jaman belanda masih di sunda kelapa (Umbgrove & Verwey, 1929) sampe ke masa sekarang takut akan kehilangan pulau" ini. kenapa? karena mereka sering banget nemuin indikasi erosi di beberapa pulau, bahkan ada pula pulau yang udah 'ilang.'

nah, tujuan dari TA gw ini adalah, memodelkan, well, secara ga langsung, dinamika pergerakan pasir di pulau" ini, tapi fokus gw cuma di satu pulau, yaitu pulau semak daun.

ga tau pulau semak daun? nih gw kasih fotonya yak!

taraa! bener kayak semak daun kan dari jauh? hehe (sumber: google)

pulau ini tuh keciiil banget. 15 menit udah beres keliling ini pulau, serius! 30 menit deh kalo pake leyeh" santai hahaha. tapi pulau ini jadi salah satu 'pegangan hidup' penduduk kepulauan seribu, khususnya warga Pulau Pramuka dan Pulau Panggang, karena kalo turis main, pasti salah satu destinasi utamanya adalah pulau kecil nan imut ini. jadi ga heran kalau pemerintah setempat 'ketakutan' akan kehilangan pulau ini.

sejak erosi terindikasi oleh pemerintah setempat, mereka berusaha untuk 'menghentikan' erosi tersebut dengan mendirikan sea wall yang sebenarnya ga cocok untuk morfologi pulau nan rapuh ini. akibatnya, tembok" yang udah didirikan itu, yah, mungkin karena efek potong-biaya-sana-sini juga, ya rusak. nah kan. udah pantainya rusak gegara tembok, eh ini temboknya rusak pula.

wall yang rusak gegara scouring di semak daun ("the cay" movie crew, 2010 - termasuk saya heheh)

tapi beneran ga sih, kalo semak daun ini bakal hilang? terus, kalo ga boleh bikin tembok, dibiarin aja gitu pasirnya pergi jauuuhhh?

NAH! satu hal yang membedakan dinamika pasir di pulau" kecil adalah, saking kecilnya mereka, yang namanya aktivitas laut itu menghantam dari segala arah! (Adrianto & Matsuda, 2003) jadi sebenarnya pergerakan pasir di pulau kecil itu, ya dinamis sekali. itulah mengapa judul TA gw ini muncul, gw akan memodelkan pergerakan pasir tahunan di pulau kecil ini. tapi gw cuma ambil peak season-nya, yaitu bulan agustus dan januari (Poerbandono, 2012). gw juga dapet gambaran mengenai angin musiman di kepulauan seribu dari penelitian senior gw tersotoy-tapi-ngangenin (Aziz, 2011 lulusnya kalo ga salah).

hipotesis yang mendasari penelitian gw adalah dari pembimbing gw sendiri, yak, lo bakal nemu cukup banyak nama beliau nongol di post ini. berikut ilustrasinya.

hipotesis pergerakan pasir di musim angin timur, yang puncaknya adalah agustus (Poerbandono, 2012)

nah terus, gw ngebandingin dua citra satelit. yang satu citra di bulan juli 2008 (musim angin timur), satu lagi bulan desember 2009 (musim angin barat). dan inilah perbandingannya!

kiri: juli 2008, kanan: desember 2009 (Alodia et al., 2012)

naaahhh beda kan lokasi pasirnya? jadi bisa kita asumsikan bahwa sebenarnya pasir ini ga 'hilang,' tapi 'pindah.' untuk membuktikannya, makanya gw bikin model arus di sekitar pulau ini!

jadi gw ngedownload data angin di kedua peak season itu dari NOAA, download model batimetri global dari GEBCO, digabung sama digitasi nautical chart kepulauan seribu dari dishidros, digabung sama hasil survey hidrografi di pulau semak daun (Poerbandono et al., 2004) dan pulau pramuka-panggang-karya (Poerbandono et al., 2009), dan prediksi pasutnya gw lakukan di software yang gw gunakan (rahasia softwarenya apa, hehe).

dan berikut hasil mesh hasil gado" batimetri sayah!

curucuuuuuwwww.. cute yah?! (Alodia, 2012)

nah terus setelah strugle melewati berbagai proses modelling dari ga ngerti apa" sampe bisa klak-klik sambil merem (berlebih), jadilah mahakarya itu!

my final result, wohoo! (Alodia, 2012)

cool kan cool kan!! kita bisa bandingin SE current sama hipotesis modelnya bapak Poerbandono yang sebelumnya gw cantumin, dan cocok!

jadi kesimpulannya, manusia itu memang lebih perhatian dengan apa yang 'hilang' daripada dengan apa yang 'datang.' pas pasirnya pergi, panik. bikin tembok. protektif. mereka ga tau, kalo bikin tembok malah ngerusak dinamika pasir, makanya pas pasirnya 'pulang kampung' dan 'kampung'nya udah ketutup tembok, mereka mangkal di luar tembok, seakan baik" aja padahal 'maksa masuk' gegara kena arus laut yang bikin mereka 'mendesak tembok perlahan' dan terjadilah si scouring dan FYI pasir di luar tembok bukan hal yang jarang ditemui di pulau" kecil di kepulauan seribu loh! jadiii.. santai aja! pasir kamu ga hilang beb, cuma lagi cari jati diri aja. kalo dia udah siap, dan memang sudah waktunya, pasti balik lagi ke 'kampung'nya ahahaay~

ps: kepikiran cerita soal TA gegara pas gw cerita soal TA gw ini ke salah satu kolega dan gw tunjukin pulau semak daun di google maps, dia heboh 'it looks like paradise!' dan berujung 'maybe I should apply as a professor in bandung.' bisa pak. bisaa bisaa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Template developed by Confluent Forms LLC