14 Maret 2016

mau nangis boleh?

nangis. satu kata yang kesannya "eh kok kamu cemen bangets."

buat saya, nangis itu adalah penyelesaian tercepat dari suatu masalah. ya ga penyelesaian juga sih, pelarian #sembarigaruktanah

belakangan ini gw berhadapan dengan berbagai kondisi yang bikin pengen teriak "mau nangis, boleh?" contoh mudahnya, hari ini nih. gw memutuskan untuk stay di kantor sampe "agak" malem. barusan lewat jam 7. terus abis matiin pc nyadar "lewat jam 6an mah udah ga ada angkot ke simpang." uww kamfredd~ jadilah, ngapain gue buru". sekalian getok"in kepala cantik dulu deh di meja, percuma juga mesen gojek jam segini, ga ada beda sama jam 11 malem.

eniwei. aku capek!

aku ingin berkelana (lagi), tapi ga da duit. prioritas gw sejak pulang sangat berantakan :'') hal terburuk adalah, i enjoy it so much. asli. nyatanya saya sedang butuh jadi robot.

tapi, lagi", yang bikin nangis itu adalah, sekarang permasalahan itu jadi kompleks sekali. kebutuhan sosialisasi yang meningkat berbanding lurus dengan interaksi sosial dan, aduh, permasalahan sosial. masalah" yang dua tahun belakangan tak gw alami di eropa kini jadi masalah beneran. kalo dulu cuma ribut sama kalangan tertentu, ini ributnya sama orang" terdekat. ah, kenapa hidup harus drama :'''')

seorang teman berkata: hidup itu drama karena wanita yang menciptakannya. dan lelaki selalu memikirkan wanita. jadi ga mungkin hidup itu tanpa drama (yes i do not see the logic either).

teman yang lain berkata: drama itu ada demi kenangan (yatapi tolong lah sakit itu ga enak #ehh).

aku lelah dengan drama! can't you guys just keep it real?

sayangnya gw pun kurang pintar untuk meniadakan drama dalam hidup ini bwahaha. ah sudahlah. mulai mingdep mesti fokus ulang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Template developed by Confluent Forms LLC