08 Juli 2016

DUC#6: MURI dan Pembawa Perubahan Bangsa

Hari ini gw dan saudara-saudara gw main timezone seharian di Mall of Indonesia, alias MOI, di bilangan Kelapa Gading. Kami yang gila timezone sedari kecil segitu betahnya main, terus makan, minum, terus main lagi. Luar biasa sodara-sodara, luar biasa. Sebelum permainan kali kedua, kami menyempatkan diri untuk menengok pameran tetap MURI alias Museum Rekor Indonesia, yang ternyata letaknya ada di dalam MOI itu sendiri!

Di sana, ada berbagai foto, bahkan wahana interaktif (layar touch screen, kacamata plus headset untuk virtual reality experience, dan beberapa hal kecil lain). Ada juga video, yang ada di youtube itu loh, yang presiden dan mantan-mantan presiden Indonesia, mantan wakil, beberapa negarawan, dan orang-orang penting bagi bangsa ini gantian nyanyi lagu "Indonesia Pusaka." Sweet deh. Sepertinya proyek itu jangka panjang, karena mereka sempat merekam antara lain alm. Gusdur, alm. Gito Rollies, dan alm. Idris Sardi, sementara Pak Jokowi juga sudah ada di video itu. Artinya mereka direkam nyanyi dalam epok yang berbeda, ya toh? Oh ya, yang menarik, ada Frans Magnus Suseno, serta pasangan Susi Susanti dan Alan Budikusuma juga. Favorit :')

Jujur, sempat terpikir di benak gw. Mungkin ga ya, suatu hari gw di sana? Jadi orang penting yang berdampak besar untuk kemaslahatan umat. Hmm.. Satu-satunya orang yang cross my mind saat memikirkan ini adalah si Anggi, teman SMP gw yang kemarin kuliah di Fakultas Ekonomi UI, dan bakal berangkat ke Yale Juli ini. Yale, nyets, Yale! Ms. Ivy League she is! Oh yaaaa dan Sari! Senior favorit idola sepanjang masa gw dari SMA! Sebelumnya Antropologi UI dan Master di Amsterdam. Dia baru berangkat juga, ke US juga, nyeets! Buat S3!! Lalu terlintas, obrolan gw dan Dian, serta dengan beberapa orang belakangan ini. Kalau seseorang mau punya pengaruh, sebenarnya paling cocok yang kuliah di ilmu-ilmu sosial, terutama sospol dan ekonomi. Dampak pekerjaan lo, BAM! Bisa besar sekali, karena yang lo pikirkan itu benar-benar manusia. Sementara gw. Sekarang di Geodesi. Gw mendidik surveyor. Gw mendidik pekerja. Kalau pun ada yang akan jadi pemimpin di bidang ini, mungkin ya, sebatas orang-orang sesama geodet-surveyor aja, ga lebih. Padahal, jaman SMA, kesannya kelas IPA itu wah banget. Terutama sih karena ga bisa jadi dokter kalau ga IPA. Tapi begitu masuk dunia nyata, anak-anak IPS yang menentukan nasib bangsa, coi! Hmm.. Jangan-jangan.. Paradigma "IPA itu hebat" juga hasil konspirasi untuk memperkecil kemungkinan negara yang sejahtera akibat para ambisius terlanjur mengejar bidang IPA yang jarang-jarang jadi stakeholder bangsa?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Template developed by Confluent Forms LLC