18 Agustus 2016

elegi kemerdekaan

kemarin 17 agustus. yang adalah hari kemerdekaan indonesia, terima kasih pada bung karno, bung hatta, dan kawan" angkatan muda 71 tahun yang lalu. lucu ya. 17, 71. wkwk.

elegi yang ingin saya dendangkan ialah, mengenai apa yang di depan mata. bukan masa depan, karena semua sudah begitu dekat. bau busuknya pun sudah tercium, walau tak dapat mengalahkan wangi taman bunga poppy yang mendatangkan kantuk nyaman.

ay, poppy!

merdeka itu, adalah memilih. memilih mau hidup di mana, dengan siapa, dan bagaimana. namun kadang, kemerdekaan yang merupakan hak itu, nyatanya tidak dimiliki oleh semua orang. bukan karena tidak mau, melainkan, tidak bisa. tidak bisa, karena tidak tahu. jadi ragu. jadi takut.

gw ga mengatakan gw berani, tapi gw ini.. nekat hahaha. pantas ibu saya berulang-ulang minta saya kawin, karena kawin nyatanya ialah perihal kompromi. kompromi waktu, cita-cita, tenaga. kompromi jadi sulit ketika dua insan yang berusaha menyatu sama" doyan ngitung, haha.

gw tau ga seharusnya gw merisaukan masa depan. cuma Tuhan yang tau dan gw tinggal navigate. ga perlu bicara soal burung di udara dan bunga di taman, saya masih dikasih napas pun saya sudah bersyukur. tapi soal perjodohan, saya ini memang tolol hahaha.

tebak sudah berapa lubang saya masuki? tebak berapa kali saya jatuh? tebak, yang satu ini hanya lubang, atau memang rumah?

kadang saya mencaci diri sendiri: apa susahnya cari yang mudah? kenapa senang mempersulit diri? kenapa nyaman dengan yang tak aman? dari pilihan pekerjaan, tempat tinggal, hingga keinginan berkeluarga. kenapa tidak jadi normal? kenapa harus di luar kebiasaan?

saya lupa kapan terakhir kali hidung mampet bukan karena pilek. pula lupa kapan terakhir kepala sakit bukan karena butuh parasetamol. sayangnya lagi, saya sudah tidak bisa membedakan. mana yang akan abadi, dan mana yang akan terlupakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Template developed by Confluent Forms LLC